Keteladanan Wali Songo: Prioritaskan Umat di Atas Gelar Haji

Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji. Foto:Canva

Kisah Sunan Kalijaga mengajarkan pentingnya memprioritaskan problematika umat di atas kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan ibadah. Sunan Kalijaga dilarang menunaikan ibadah haji karena pada masa itu, iman masyarakat Jawa yang menjadi medan dakwahnya masih rapuh. Kondisi ini mengingatkan kita untuk melihat realitas umat hari ini, di mana persoalan tidak lagi berfokus pada iman semata, tetapi juga kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran yang melanda banyak masyarakat.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan besar mengenai prioritas dalam beribadah. Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, almarhum Prof. KH Ali Mustafa Yaqub, dalam bukunya **Haji Pengabdi Setan**, menyoroti fenomena orang-orang yang kerap kali menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali. Kiai Ali memberikan gelar “Haji Pengabdi Setan” kepada mereka yang beribadah bukan karena Allah SWT, melainkan karena kemaruk dan hawa nafsu.

Kiai Ali memaparkan, di saat banyak anak yatim terlantar, puluhan ribu orang kelaparan, tetangga dan kerabat kekurangan, serta rumah Allah dan bangunan pesantren terbengkalai, sebagian orang justru memilih untuk menunaikan haji kedua atau ketiga kalinya bahkan berkali-kali. Hal ini mengundang pertanyaan: apakah ibadah haji tersebut benar-benar karena Allah SWT? Ayat manakah yang menyuruh kita untuk berhaji berkali-kali sementara masih ada segudang kewajiban agama di depan kita?

Bacaan Lainnya

Kiai Ali juga mengajak kita untuk merenungkan apakah haji yang dilakukan mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW. Kapan Nabi memberikan teladan atau menyuruh kita untuk melakukan haji berkali-kali? Sejalan dengan hal ini, terdapat banyak cerita yang mengisahkan seseorang mendapatkan status haji mabrur meskipun tidak menunaikan ibadah haji di Makkah.

Sebuah hadist nabi menceritakan bahwa usai menunaikan haji, para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang siapa yang hajinya mabrur. Nabi menjawab bahwa yang hajinya mabrur adalah si fulan. Para sahabat terheran-heran karena si fulan tersebut tidak jadi menunaikan ibadah haji. Ternyata, si fulan menggunakan uang yang disiapkan untuk bekal haji untuk menolong tetangganya yang sedang sakit.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa esensi dari ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga memperbaiki ikrar keberhambaan dan meningkatkan amal saleh, terutama dalam membantu sesama yang membutuhkan. Dalam suasana yang penuh dengan kemiskinan dan ketidakadilan, keberanian untuk mengutamakan kepentingan umat di atas ritual pribadi menjadi wujud ibadah yang hakiki dan mendalam.

Memprioritaskan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan ibadah, merupakan pesan moral yang mendalam dari kisah Sunan Kalijaga dan pandangan Kiai Ali Mustafa Yaqub. Dengan demikian, haji tidak hanya menjadi perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi juga perjalanan spiritual menuju keikhlasan dan kepedulian sosial yang sesungguhnya.

Pos terkait