Keteladanan Wali Songo: Prioritaskan Umat di Atas Gelar Haji

Ilustrasi pelaksanaan ibadah haji. Foto:Canva

Suluk ini mengisahkan perjalanan batin Sunan Kalijaga dalam menempuh jalan Allah, mencari hakikat menuju makrifat. Ilmu hakikat mengajarkan, jika kita pergi haji hanya untuk secara lahiriah berkhidmat terhadap bangunan batu yang disebut Ka’bah, maka itu tak ubahnya bagai menyembah berhala.

Jika kita pergi ke Makkah tanpa menyelami makna dan hakikatnya, maka itu justru tak lebih dari sekadar berpesiar mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Hal itu sejalan dengan paham di kalangan penganut tasawuf, yang berpendapat, dengan menunaikan ibadah haji dan bertawaf mengelilingi Ka’bah, diharapkan bisa membangun Ka’bah yang sejati di dalam diri kita. Hakikat dari Ka’bah bukanlah bangunan batu sebagaimana yang kita kenal selama ini di Makkah, melainkan rumah Allah yang ada di hati setiap manusia.  (Mark R. Woodward, Islam Jawa, LKiS 1999).

Bacaan Lainnya

Mengunjungi rumah Allah di Tanah Suci adalah untuk mengingat kembali tujuan penciptaan manusia, memperbarui ikrar sebagai khalifah di muka bumi, dan menegakkan rahmat bagi alam semesta dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tujuan utama pergi haji bukan untuk mencari surga, melainkan memperbaiki ikrar keberhambaan dan meningkatkan amal saleh.

Pendek, namun luas maknanya. Mudah diucapkan, namun tidak mudah mewujudkannya. Amar makruf, banyak orang termasuk anak kecil bisa melakukan. Namun mencegah apalagi melawan kemungkaran, tak banyak orang yang mampu melaksanakan.

Padahal dalam kaidah fikih, mencegah keburukan ataupun kemungkaran itu harus lebih diutamakan dibanding mengerjakan kebaikan. Mencegah keburukan pada hakikatnya adalah juga mengerjakan kebaikan. Oleh sebab itu pula orang yang dianggap sukses menunaikan ibadah haji disebut haji mabrur, yakni perilakunya berubah menjadi atau semakin baik, sesuai dengan ikrar yang baru diperbaruinya. Dan bukan karena telah berhasil mencium hajar aswad, atau pun melempar dengan telak simbol setan “tiang jumrah” di Mina.

Kisah lain dikutip dari Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Raden Said diminta Sunan Bonang agar mengerjakan ibadah haji ke Makkah. Namun, ketika sampai di Pulau Pinang, dia bertemu Maulana Maghribi, yang memintanya kembali Jawa. Alasannya, menurut Maulana Maghribi, lebih baik Raden Said membuat masjid untuk mengembangkan dakwah Islam di Jawa daripada ke Makkah untuk melihat bangunan Ka’bah bikinan Nabi Ibrahim. Sebab, waktu itu Raden Said baru mengenal Islam. Syekh Maghribi sepertinya khawatir, jika melihat Ka’bah yang terbuat dari batu, Raden Said malah akan menjadi kafir karena berpikir orang Islam menyembah batu.

Pos terkait