Peserta dialog dibagi dalam kelompok kecil dan didampingi oleh fasilitator untuk melaksanakan Focus Group Discussion dengan beberapa pertanyaan pemantik:
1. Ceritakan satu pengalaman kalian berinteraksi dengan orang/kelompok dari lintas iman dan budaya?
2. Apa konflik atau tantangan yang kalian lihat soal hubungan lintas iman dan budaya di sekitar kalian?
Pada acara ini, perwakilan mahasiswa STT INTI Bandung menyatakan betapa berkesan dan berharganya pengalaman berdialog dengan teman berbeda agama. Ternyata, masih ada orang-orang yang membenci minoritas dan itu adalah oknum.
“Setelah saya berkomunikasi dengan teman-teman Muslim, saya jadi paham bahwa ternyata Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Dulu saya berpikir bahwa ada jarak dan tembok yang membatasi saya dengan yang non-Kristiani, sehingga tidak bisa tercipta komunikasi”, kata Haryanto, mahasiswa STT INTI Bandung.
Perwakilan Santriwati PPM Universal, yang juga mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunungjati, Ralintya Hasna Rafifah, menambahkan bahwa, “Ternyata sekolah yang berbasis agama tidak bisa menjamin bahwa dia bisa menjadi orang yang toleran dan moderat. Lalu, aku belajar bahwa ternyata semua agama mengajarkan hal kebaikan tidak ada yang mengajarkan keburukan. Ketika seseorang sudah menumbuhkan cinta kepada Tuhan maka ia akan menyebarkan cintanya kepada semesta.”
Acara ini ditutup dengan doa lintas-iman, dipimpin oleh Prof. Dr. Nurrohman dan Pdt. Maximillian Parhusip. Dilanjutkan dengan pernyataan komunike bersama untuk melanjutkan upaya menjaga dialog terbuka, serta menggalang kerja sama yang lebih erat di masa depan. Ikhtiar positif ini akan terus dijalankan untuk mempengaruhi lebih banyak orang menjadi agen perubahan dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih inklusif dan damai.
____FOTO: Dokumentasi dialog lintas-iman di Pesantren Mahasiswa Universal, Bandung, Senin (27/11)





