Xi Jinping-Trump Bahas Selat Hormuz, Gedung Putih Sebut China Ingin Jalur Energi Tetap Dibuka

Tiongkok Ingin Selat Hormuz Dibuka
Presiden China Xi Jinping berjalan bersama dengan Presiden AS Donald Trump menuju kuil surga di Beijing, Kamis (14/5/2026). --X@WhiteHouse

Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari lalu, Teheran hampir sepenuhnya menutup jalur tersebut. Penutupan itu memicu gangguan rantai pasok energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

AS Klaim Alihkan 70 Kapal

Militer Amerika Serikat juga mengklaim telah mengalihkan puluhan kapal untuk menegakkan blokade terhadap pelayaran menuju atau keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.

United States Central Command atau CENTCOM menyatakan telah mengalihkan 70 kapal komersial dan menonaktifkan empat kapal lainnya.

Bacaan Lainnya

“Hingga hari ini, pasukan CENTCOM telah mengalihkan 70 kapal komersial dan menonaktifkan empat kapal untuk memastikan kepatuhan,” tulis CENTCOM melalui platform X.

Ketegangan Baru di Laut Arab

Di tengah krisis tersebut, dua insiden baru kembali memanaskan situasi keamanan maritim di kawasan Teluk.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal yang berlabuh di dekat Fujairah, Uni Emirat Arab, diambil alih oleh “personel tidak berwenang” dan diarahkan menuju Iran.

Sementara itu, sebuah kapal kargo kayu berbendera India tenggelam di perairan Oman setelah terbakar akibat dugaan serangan drone atau rudal. Seluruh 14 awak kapal berhasil diselamatkan penjaga pantai Oman.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Iran Tegaskan Kontrol atas Selat Hormuz

Pejabat Iran kembali menegaskan bahwa kapal komersial masih dapat melintasi Selat Hormuz selama mematuhi aturan otoritas Teheran.

Juru bicara kehakiman Iran Asghar Jahangir mengatakan penyitaan kapal tanker yang dianggap melanggar aturan dilakukan berdasarkan hukum domestik dan internasional.

Iran juga tengah membangun mekanisme baru pengawasan pelayaran melalui “Otoritas Selat Teluk Persia”. Kapal yang ingin melintas diwajibkan menyerahkan detail muatan, kepemilikan, tujuan, dan rute perjalanan sebelum mendapatkan izin transit.

Menurut pejabat Iran, kapal yang dianggap “bermusuhan” tidak akan diizinkan melewati jalur tersebut.

Hingga kini, negosiasi damai antara Washington dan Teheran masih mengalami kebuntuan. Amerika Serikat menuntut Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya, sementara Iran meminta pencabutan sanksi dan pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz.***

Pos terkait