Viral Lansia Dititipkan ke Panti, Anak Bantah Telantarkan Ibunya

ILUSTRASI dibikin dengan AI | Samudrafakta
Lelakon SF, lansia 65 tahun asal Surabaya, sempat viral setelah dia dititipkan anaknya ke Griya Lansia Malang. Dan ternyata, peristiwa itu bukan penelantaran. Anak SF mengaku kewalahan.

__________

Viralnya peristiwa SF memicu perbincangan di media sosial. Banyak yang menilai itu sebagai bentuk penelantaran. Namun, klarifikasi dari pihak keluarga dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menunjukkan cerita yang lebih kompleks.

Camat Pabean Cantian, Muhammad Januar Rizal, menegaskan bahwa tidak ada niat dari anak ketiga SF, yakni LH (40), untuk membuang ibunya.

Bacaan Lainnya

“Sebenarnya tidak ada niatan ditelantarkan oleh anaknya. Tetapi, karena keterbatasan, anaknya memilih menitipkan ibunya ke tempat yang lebih baik,” kata Januar, Jumat, 18 Juli 2025.

LH diketahui bekerja serabutan. Selama ini dia diketahui menumpang tinggal di rumah sepupu. Dia merasa kewalahan merawat ibunya seorang diri. Sementara saudara-saudaranya, yang lain tinggal jauh di Kalimantan dan Madura, tidak dapat membantu.

“Saya hanya ingin ada yang merawat ibu. Tidak ada tujuan untuk membuang atau menelantarkan ibu saya seperti yang viral,” tegas LH (18/7).

Menurut Januar, SF tergolong keluarga miskin dan menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan BLT beras. Makanan harian juga dibantu warga lewat program Kampung Madani.

Terkait viralnya kabar keluarga tidak boleh menjenguk SF di Griya Lansia Malang, Januar menepisnya. “Kalau menjenguk silakan. Kalau ada kejadian darurat, pasti disampaikan ke keluarga. Apa yang disampaikan di media sosial mungkin hanya bentuk peringatan,” katanya.

LH membenarkan hal tersebut. “Saya telepon Pak Arif (pengelola panti), katanya bisa dibesuk. Satu bulan sekali juga boleh,” ucap LH.

LH mengaku mengetahui keberadaan Griya Lansia dari tetangga. Ia melihat pelayanannya baik dan berharap ibunya bisa mendapatkan perawatan yang layak. 

Kondisi ibunya juga disebut cukup berat—pernah stroke, terkadang mengompol, dan membutuhkan perhatian khusus.

Pemkot Surabaya telah menawarkan solusi agar SF bisa dirawat kembali oleh anaknya, salah satunya dengan menyewakan kontrakan untuk sementara waktu.

“Saya sediakan kos-kosan, saya kontrakkan sebulan dulu supaya bisa lepas dari rumah sepupunya,” kata Januar.

Namun, pihak keluarga belum bisa menerima tawaran itu. LH mengaku masih keberatan karena tidak ada yang bisa merawat ibunya jika ia harus bekerja.

“Mau saya bawa pulang, tapi siapa yang jaga? Saya kerja sendiri,” ujarnya.

Januar menegaskan, Griya Wreda Surabaya hanya diperuntukkan bagi lansia miskin yang benar-benar tidak punya keluarga—sesuai Perwali Surabaya No. 120/2021.

Menutup pernyataannya, Januar berpesan kepada masyarakat agar tidak mudah menghakimi dan lebih mengedepankan empati.

“Di mana-mana, tidak ada yang namanya bekas orang tua,” pungkasnya.***

Pos terkait