Dinkes Batang memastikan tidak ada korban meninggal dalam dugaan keracunan MBG di Kecamatan Bawang. Angka terus diperbarui hingga mencapai 287 orang, sementara sampel makanan masih diuji laboratorium.
BATANG — Dinas Kesehatan Kabupaten Batang memastikan tidak ada korban meninggal dalam dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang. Kondisi pasien yang menjalani perawatan dilaporkan membaik hingga Kamis pagi, 24 September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Batang Ida Susilaksmi mengatakan telah memantau pasien di RSUD Kalisari hingga Rabu pukul 23.45 WIB, lalu kembali memantau pada Kamis sekitar pukul 05.30–06.30 WIB. Menurut dia, keluhan diare, mual, muntah, dan pusing mulai berkurang.
Angka Korban Terus Bergerak
Jumlah korban tercatat naik-turun sepanjang Rabu malam: dari 87 orang, menjadi 276, hingga 287 siswa dan orang tua pada pembaruan pukul 22.37 WIB — angka termutakhir yang tercatat media sejauh ini. Sebanyak 19 orang di antaranya masih menjalani rawat inap intensif di RSUD Kalisari.
Pemerintah daerah belum menerbitkan rekap final pasien rawat inap, rawat jalan, dan yang telah dipulangkan. Ida mengatakan data masih dirapikan karena pencatatan selama penanganan Rabu malam berubah cepat.
Makanan berasal dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang yang melayani sekitar 2.700 penerima di 11 lembaga pendidikan — mulai dari TK Al Ikhlas, TK Pertiwi, SDN 3 Bawang, MI Salafiyah Pasusukan, hingga MTs dan MA Sunan Kalijaga. Angka 2.700 adalah seluruh penerima layanan dapur itu, bukan jumlah yang bergejala.
Menu dibagikan Selasa, 22 September, sekitar pukul 11.00 WIB, dan keluhan mulai muncul dalam hitungan jam. Beberapa orang tua turut bergejala setelah mencicipi sisa makanan yang dibawa pulang anak mereka. Menunya terdiri atas nasi putih, telur bolognese, tahu mendoan, sayuran campur, dan anggur — dengan olahan telur sempat dicurigai sejumlah korban, meski belum dapat dipastikan sebagai sumber gangguan sebelum uji laboratorium rampung.
Dapur Dihentikan, Belum Jadi KLB
Pemerintah Kabupaten Batang menghentikan sementara produksi dan distribusi dari SPPG terkait. Sampel makanan telah diambil untuk diuji di laboratorium, dan pengelola dapur serta koordinator wilayah akan diperiksa soal kepatuhan prosedur pengolahan, penyimpanan, dan distribusi.
Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan penetapan status kejadian luar biasa (KLB) memerlukan pembahasan tersendiri dan hasil pemeriksaan lebih lanjut. Kegiatan belajar tetap berjalan bagi siswa yang sehat.
Kasus Bawang ini berbeda dari dugaan keracunan Pemberian Makanan Tambahan di Desa Rowobelang sehari sebelumnya, yang melibatkan 21 orang setelah mengonsumsi bubur kacang hijau dari kegiatan posyandu dan ditangani terpisah.
Insiden ini juga menambah panjang daftar kasus keracunan MBG secara nasional. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat 43.838 dugaan kasus keracunan program ini di 36 provinsi sejak diluncurkan Januari 2025 hingga pertengahan Agustus 2026 — mendorong desakan sejumlah kalangan, termasuk Koalisi MBG Watch dan Center of Economic and Law Studies, agar pemerintah menetapkan KLB pangan nasional dan mengaudit total tata kelola program tersebut.***





