Tubuh Lemas Kekurangan Makanan, Tiga Orang Suku Togutil Keluar dari Hutan Halmahera

Dua pekerja proyek menyambut tiga orang anggota Suku Togutil. Tangkapan layar foto ini diambil dari akun TikTok @mancing04.
HALMAHERA — Sebuah momen langka terjadi ketika sekelompok pekerja proyek bertemu dengan suku terpencil Togutil, yang mendiami kawasan hutan Halmahera, Maluku Utara. Kejadian ini tidak hanya menarik perhatian banyak orang, tetapi juga menegaskan keberadaan dan kehidupan suku-suku terpencil di pedalaman Indonesia.

Dalam sebuah video yang diposting oleh akun TikTok @mancing041, tiga anggota suku Togutil tampil di hadapan para pekerja yang sedang membuka lahan. Mereka terdiri dari seorang pria dewasa dan dua wanita. Ketiganya mengenakan pakaian sangat sederhana.

Dalam penampilan mereka, terlihat kelemahan dan kelaparan yang mungkin mereka alami, ditandai dengan cara berjalannya yang lemah dan berpegangan tangan.

Kehadiran suku Togutil  merupakan kejadian sangat langka. Mereka jarang berinteraksi dengan dunia luar. Beberapa pekerja proyek tampak mendekati mereka dengan hati-hati. Pekerja ini rupanya menyadari perbedaan gaya hidup dan pemikiran kelompok ini. Tiga orang Suku Togutil juga tampak menyerahkan golok kepada pegawai proyek tersebut.

Setelah mendapatkan kepercayaan, para pekerja mengajak mereka berjalan menuju tenda tempat makan. Dari ekspresi wajah dan gerak tubuh yang lemah, jelas terlihat bahwa ketiga anggota suku Togutil ini membutuhkan makanan.

Pada postingan berikutnya, pemilik akun@mancing04 juga mengunggah foto ketiga anggota suku Togutil sedang duduk di meja makan. Tampak tiga piring nasi di depan ketiga suku Togutil tersebut. “Mereka hanya meminta sedikit apa yang mereka butuhkan, suku asli pedalaman Halmahera,” tulisnya.

Dilansir laman guru pendidikan, suku Togutil (atau dikenal juga sebagai suku Tobelo Dalam) adalah kelompok/komunitas etnis yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli yang termasuk dalam Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Yang perlu diingat, Orang Togutil sendiri tak ingin disebut “Togutil” karena Togutil bermakna konotatif yang artinya “terbelakang”.

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Suku Togutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelosama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Orang Togutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Togutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri-ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo.