Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan belum ada rencana mengubah standar penghitungan kemiskinan nasional. Kita maklum. Perubahan metode bukan perkara mudah. Tapi perdebatan ini seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman. Ia adalah momen refleksi, kesempatan untuk memperluas perspektif. Bahwa kemiskinan bukan soal siapa yang menang dalam statistik, tapi tentang siapa yang tertinggal dalam kenyataan.
Kata trigger, dalam arti slang, berarti terpancing marah. Tapi barangkali dalam konteks ini, kita perlu mengubahnya menjadi trigger for change—pemicu perubahan. Jika laporan Bank Dunia bisa membuat kita lebih jujur menatap kondisi sosial, lebih berani menyusun kebijakan yang inklusif, dan lebih peduli pada mereka yang hidup di tepian kesejahteraan, maka biarlah pelatuk itu ditekan. Biarlah angka-angka itu meledak—bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menghidupkan rasa dan empati.