‘Human Library’, Ketika Manusia Lintas Identitas dan Iman Saling Mendengar, Merasa, dan Memahami Kemanusiaan

Acara Human Library di Bandung, 12 Juli 2025. | FOTO: Istimewa
Human Library digelar di Nutrihub Bandung, 12 Juli 2025. Peserta mendengar kisah hidup nyata dari “buku manusia” sebagai jalan membangun empati, toleransi, dan perdamaian lintas identitas.

__________

Gerakan Human Library atau Perpustakaan Manusia hadir di kantor NutriHub, Jl. Raden Patah No.36, Lebakgede, Coblong, Kota Bandung, Sabtu, 12 Juli 2025. Kegiatan ini menjadi ruang aman untuk berbagi kisah hidup, menyembuhkan luka sosial, dan membangun kepercayaan lintas identitas.

Digagas oleh Initiatives of Change (IoFC) bersama Sekolah Damai (SEKODI) Bandung, Yayasan Cahaya Guru, JAKATARUB, dan didukung oleh Lokalate serta Nutrihub, acara ini mengangkat tajuk Circle of Peace and Healing. Program ini bagian dari proyek Speak Up Conversation for Peace.

Bacaan Lainnya
Kisah Hidup Jadi Buku yang Dibaca

Empat narasumber menjadi “buku hidup” atau living books dalam Perpustakaan Manusia kali ini adalah Hobbie dari SEKODI Bandung); Jocaste dari JAKATARUB; Fawwaz dari Yayasan Cahaya Guru; dan Chintya dari Creators of Peace Bandung. Mereka menyampaikan kisah-kisah pribadi, mulai dari pengalaman diskriminasi, perundungan, hingga pergulatan identitas.

“Di Indonesia, kita sering menyaksikan kasus perundungan, penutupan rumah ibadah, hingga prasangka terhadap kelompok tertentu. Apakah kita akan terus terjebak dalam narasi yang membenarkan kekerasan?” kata Miftahul Huda, Project Manager IoFC Indonesia, kepada Samdrafakta, Rabu, 30 Juli 2025.

Ia menekankan pentingnya ruang perjumpaan antarindividu agar lahir empati dan saling percaya. “Human Library adalah salah satu caranya,” ujarnya.

Toleransi yang Otentik

Pendekatan Human Library menjadi bentuk soft pluralism, yang menurut Abdul Mu’ti (2019), mengarah pada toleransi otentik. Tujuannya bukan hanya menerima perbedaan, tapi juga merayakannya dengan empati dan keterbukaan.

Setiap narasumber membawa kisah yang menunjukkan bagaimana kerentanan bisa menjadi kekuatan. Chintya, misalnya, mengisahkan proses penyembuhannya dari luka batin masa kecil. “Saya belajar menerima diri dan menemukan damai,” katanya.

Fawwaz, guru agama Islam, menyuarakan kelompok marjinal lewat media sosial dan pendidikan. “Human Library ini jadi wasilah untuk menyuarakan suara-suara yang tersisih,” ujarnya.

Sementara itu, Jocaste menemukan makna keberagaman lewat proses mendengar, dan Hobbie menekankan bahwa orientasi dan romantika kehidupan terbentuk dari pengalaman akan cinta dan respek terhadap perbedaan.

Cerita Menggerakkan, Bukan Menghakimi

Para peserta, termasuk mahasiswa dari berbagai kampus, dibagi dalam kelompok. Mereka berpindah dari satu “buku” ke “buku” lainnya setiap 15 menit untuk mendengarkan kisah secara langsung dan berdialog.

“Komunikasi dua arah seperti ini jauh lebih membumi dibanding membaca tulisan,” ujar Jofran Suwandi, mahasiswa. Nadya menambahkan bahwa dialog jujur dan terbuka adalah kunci ruang aman.

Ahso, mahasiswa UIN Sunan Gunungjati, mengaku antusias. “Setiap cerita membuka bab kehidupan yang tak pernah saya bayangkan,” katanya.

Langkah Kecil Menuju Perdamaian

Human Library bukan sekadar acara. Ia adalah cara untuk membongkar sekat sosial lewat kekuatan cerita. Dari empati yang tumbuh dalam setiap kisah, lahirlah pengertian yang tulus. Dalam keberagaman, kita tetap terhubung sebagai sesama manusia.***

Pos terkait