Trigger Kemiskinan dan Peluru Data Global

Ilustrasi angka kemiskinan di Indonesia. Foto dibuat SORA

Kenaikan garis kemiskinan versi Bank Dunia juga dipicu pembaruan metode perhitungan PPP yang kini menggunakan data tahun 2021, bukan 2017. Revisi ini menyebabkan garis kemiskinan global naik, sehingga secara otomatis, jumlah orang miskin pun melonjak di atas kertas. Data berubah, realitas terasa bergeser. Bahkan, jika dihitung secara linier, penduduk miskin Indonesia bisa mencapai 208 juta jiwa atau 73,1 persen dari populasi.

Tentu, kita bisa berdebat panjang tentang teknis perbedaan metode, tentang spasial deflator, tentang nilai tukar versus daya beli. Namun yang lebih penting dari sekadar angka adalah: bagaimana kita memaknai data tersebut secara etis dan politis? Apakah pemerintah akan terpancing untuk memperbaiki strategi? Apakah masyarakat akan tergugah untuk lebih kritis? Ataukah kita akan sibuk menolak realitas karena angka terasa mengancam narasi yang selama ini dijaga rapi?

Dalam pernyataannya, BPS menegaskan bahwa mereka masih menggunakan pendekatan CBN yang menyesuaikan dengan konteks domestik. Komoditas dasar seperti beras, tahu, minyak goreng, dan kebutuhan nonmakanan seperti transportasi, pendidikan, dan kesehatan menjadi parameter. Survei dilakukan dua kali setahun melalui Susenas, dengan cakupan rumah tangga sebagai unit dasar. Garis kemiskinan nasional pada September 2024 tercatat Rp595.242 per kapita per bulan—sekitar Rp2,8 juta untuk satu rumah tangga miskin rata-rata. Angka yang terasa akrab dan membumi.

Namun, di luar perdebatan angka dan metode, pertanyaan besarnya tetap: apakah standar nasional itu cukup untuk menangkap kerentanan sosial yang sesungguhnya? BPS sendiri menyebut bahwa di atas kelompok miskin, ada kelompok rentan miskin, yang jumlahnya 68,5 juta jiwa—tiga kali lebih banyak dari kelompok miskin itu sendiri. Di atas mereka, ada kelompok yang menuju kelas menengah. Maka, hanya 0,46 persen—sekitar 1,29 juta jiwa—yang benar-benar masuk kelas atas.

Realitas sosial kita adalah piramida yang gemetar di tengah guncangan harga dan ketimpangan. Seperti senjata yang jatuh ke tangan rakyat dalam serial film Trigger, data Bank Dunia adalah pelatuk yang meledakkan kesadaran. Bahwa kemiskinan bukan sekadar status administratif, tetapi soal martabat manusia. Bahwa pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta menghapus kelaparan, ketimpangan, atau kecemasan masa depan.