TNI Tetapkan Siaga 1, Pengamat: Bukan Tanda Perang, Hanya Instruksi Internal

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melangsungkan sidak pasukan beberapa waktu lalu. - Instagram @91agussubiyanto

Pakar Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS), Dr. Selamat Ginting, menyatakan status Siaga 1 bukanlah alarm perang. “Ini sinyal bahwa negara sedang memperkuat kewaspadaan,” ujarnya, 8 Maret 2026.

Meski potensi perang fisik di teritorial nyaris nol, pengamanan ekstra di sekitar objek vital nasional dan kedutaan besar asing di Jakarta tetap diperlukan. Hal ini untuk mencegah ancaman sekunder seperti aksi terorisme domestik.

Dampak Ekonomi Jadi Ancaman Nyata

Ancaman paling nyata bagi Indonesia justru krisis ekonomi jika konflik Timur Tengah berlarut-larut. Gangguan rantai pasok maritim global dapat mendongkrak harga minyak mentah secara liar.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, memicu fluktuasi nilai tukar rupiah, serta meningkatkan inflasi. Pemerintah mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying terhadap komoditas energi.

Para pengamat sepakat bahwa ancaman terbesar bukan invasi militer, melainkan gejolak ekonomi yang dapat berdampak luas jika konflik berkepanjangan.***

Pos terkait