Unair Kembangkan Timbangan Pintar Bersuara untuk Bantu Barista Tunanetra di Surabaya

Timbangan pintar Auris
Timbangan Pintar Auris Inovasi Mahasiswa Unair. - Humas Unair

Namun, masukan dari para pengguna justru digunakan untuk menyempurnakan desain dan fungsi Auris.

Salah satu penyesuaian dilakukan pada bodi alat yang menggunakan teknologi 3D printing. Desain tersebut dibuat lebih fleksibel sehingga perangkat lebih mudah dibuka ketika membutuhkan proses perbaikan.

Akan Dikembangkan untuk Penyandang Disabilitas Netra

Setelah melalui tahap pengujian dan penyempurnaan, Auris kemudian disosialisasikan secara langsung dalam kegiatan offline di lingkungan kampus Unair.

Bacaan Lainnya

Pengembangan alat tersebut mendapat dukungan dari ekosistem kampus, mulai dari pendanaan program SDGs Unair hingga dukungan fasilitas ruangan dan administrasi dari FTMM serta Sarpras Unair.

Tim Rasena berencana melanjutkan pengembangan Auris agar penggunaannya tidak hanya terbatas pada komunitas barista tunanetra di Surabaya.

“Kami ingin terus mengembangkan Auris agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka,” kata Jessica.

Tim juga berencana memberikan satu unit Auris kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair untuk pengembangan dan pengujian lebih lanjut.

Pengembangan Auris menunjukkan bahwa inovasi teknologi untuk penyandang disabilitas tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Pemahaman terhadap kebutuhan pengguna justru menjadi titik awal untuk menghasilkan teknologi yang benar-benar dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Bagi barista tunanetra, sebuah timbangan yang dapat “berbicara” bukan sekadar perangkat digital, tetapi alat bantu untuk bekerja lebih mandiri, mengukur takaran dengan lebih presisi, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menjalankan profesinya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan