Pakar intelijen menduga, kematian diplomat muda Arya Daru — yang ditemukan tewas dengan lakban menutupi kepala — terkait dengan tugas sensitifnya menangani jaringan TPPO.
__________
Pakar intelijen Wawan Purwanto menilai, ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait kematian misterius tersebut.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan fakta fisik. Perlu penelusuran menyeluruh—dari aspek psikologis, sosial, sampai profesional,” katanya, dikutip dari wawancara di Kompas TV, Ahad, 13 Juli 2025.
Wawan menduga, bisa saja ada faktor X yang memicu kematian Arya. Bisa komplikasi medis, bisa pula sebab lain yang masih harus dikonfirmasi tim forensik.
Ia menekankan pentingnya menyisir jejak komunikasi terakhir korban—telepon, pesan, media sosial—untuk menggali kemungkinan motif.
Satu hal yang mencurigakan, kata Wawan, adalah kondisi lakban yang menutup kepala Arya. Terlalu rapi, tanpa bekas perlawanan, dan lingkungan kamar tampak bersih.
“Ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah itu dilakukan sendiri, atau ada intervensi pihak lain yang belum terdeteksi?” ujarnya.
Yang juga tak kalah penting, kata Wawan,m Arya bukan diplomat biasa. Ia pernah menangani isu sensitif seperti tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Wawan menyebut, jenis tugas ini berisiko tinggi bersinggungan dengan sindikat internasional. “Kita tak bisa serta-merta mengaitkannya, tapi tak bisa juga menutup mata terhadap potensi bahaya dalam tugas seperti itu,” katanya.
Dalam konteks pengamanan pribadi, Wawan mengingatkan pentingnya perlindungan berlapis bagi para diplomat. Tidak hanya saat mereka bertugas di luar negeri, tapi juga saat sudah kembali ke tanah air.
Meski begitu, hasil penyelidikan sementara dari Polda Metro Jaya belum menemukan adanya jejak kekerasan atau kerusakan di lokasi kejadian. Barang-barang pribadi Arya utuh. Sidik jari yang menempel di lakban pun mayoritas milik korban sendiri.
Namun semua ini belum menjawab pertanyaan pokok: benarkah Arya wafat karena tekanan pribadi? Atau ada jejak tak kasat mata dari musuh tak terlihat?
Kematian Arya tetap menyimpan teka-teki. Kebenaran mungkin baru bisa terungkap setelah hasil forensik dan digital forensik diumumkan.
Rekaman CCTV
Sementara itu, di tengah misteri yang belum terpecahkan, muncul rekaman CCTV yang memperlihatkan aktivitas mencurigakan penjaga kos di sekitar kamar Arya.
Dalam rekaman yang diambil pada Selasa, 8 Juli 2025, pukul 00.27 WIB, penjaga kos terlihat mondar-mandir di depan kamar korban. Ia mengenakan sarung, memegang ponsel, dan sempat mengintip ke dalam kamar melalui jendela.
Aksi serupa terjadi lagi sekitar pukul 05.20 WIB. Kali ini penjaga membawa sapu. Rekaman ini memicu spekulasi publik soal kemungkinan keterlibatan orang lain dalam kematian Arya.
Namun sang penjaga membantah. Ia berdalih hanya menjalankan permintaan istri korban, yang mengaku khawatir karena tak bisa menghubungi Arya.
Menanggapi rekaman itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menyatakan, semua temuan akan ditelaah secara menyeluruh oleh penyelidik. “Nanti akan kami pastikan ke penyelidik ya,” ujarnya, Jumat, 11 Juli 2025, di Mapolda Metro Jaya.
Ia menegaskan bahwa polisi akan menelusuri semua alat bukti yang relevan, termasuk rekaman CCTV dan keterangan para saksi. “Untuk mengungkap fakta, segala macam alat dan data akan didalami, termasuk pemeriksaan laboratoris,” tegasnya.
Penemuan ini membuka kemungkinan baru dalam kasus yang semula diduga kematian wajar. Sebelumnya, polisi menyebut tidak ada tanda kekerasan fisik dan sidik jari di lakban sebagian besar milik korban sendiri. Namun, keberadaan orang lain di sekitar lokasi saat kejadian bisa mengubah arah penyelidikan.***





