Tak Sesuai Prosedur dan Harga Ngawur: Fakta-fakta Mahalnya Harga Seragam SMA di Tulungagung

3. Pemprov Jatim Turun Tangan

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, pihaknya telah mengambil langkah pendisiplinan terhadap pihak yang terlibat penjualan seragam sekolah.

“Tipe saya dan Bu Khofifah, kita tidak menggembar-gemborkan langkah disiplin yang kita ambil. Tapi kalau njenengan (Anda) cek, sudah ada tindakan, tujuannya efek jera,” kata Emil.

Mantan Bupati Trenggalek itu membantah baru melakukan tindakan setelah informasi perihal seragam viral. “Katanya kita dibilang kerja kalau sudah viral. Kata siapa? Sebelum beritanya naik, kita sudah proses sebenarnya,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Bahkan, menurut Emil, Gubernur Jatim Khofifah telah mengumpulkan semua kepala sekolah dan komite sekolah tingkat SMA/SMK serta kepala cabang pendidikan se-Jawa Timur. Mereka diminta menandatangani pakta integritas yang isinya komitmen melaksanakan tugas sesuai Permendikbud No. 75/2016 tentang larangan penarikan pungutan yang tidak diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan.

“Kemarin sudah ada pakta integritas. Yang tanda tangan bukan hanya kepala sekolah, tetapi juga komite sekolah. Kenapa? Karena di komite ini nih yang kadang-kadang ada sumbangan, pungutan,” ujar dia.

4. Sekolah Tak Sesuai SOP

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menegaskan, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah mencopot Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kedungwaru Tulungagung Norhadin.

“Plt Kepala SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung dicopot sementara,” katanya.

Pencopotan tersebut dilakukan setelah tim diterjunkan menyelidiki harga seragam sekolah yang dipatok Rp 2,3 juta. Hasilnya, ditemukan kesalahan prosedur operasi standar atau standard operating procedure (SOP) yang tidak dipatuhi sekolah.

“Ada kesalahan SOP yang dilakukan SMAN 1 Kedungwaru Tulungagung,” katanya.

(SS | Yadi)

Pos terkait