Bahkan Partai Nasdem, motor Koalisi Perubahan, menjadi partai pertama yang mengucapkan selamat terhadap pasangan Prabowo-Gibran setelah ditetapkan sebagai pemenang Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan secara terang-terangan berkomunikasi dengan Prabowo.
Sedangkan partai Ganjar sendiri, PDIP, terkesan tidak begitu ‘bersemangat’ untuk mendorong realisasi rencana tersebut. Malahan, belakangan malah muncul wacana PDIP bakal ‘menyusul’ NasDem untuk berkomunikasi dengan Prabowo-Gibran dan partai-partai pendukung paslon 02.
Sementara itu, ketika atmosfer parlemen tidak begitu gereget terhadap wacana hak angket yang digagas Ganjar, pasangan Ganjar-Mahfud dan Anies Muhaimin memutuskan untuk menempuh cara lainnya, yaitu mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Proses sidangnya tengah bergulir.
Pengamat: PDIP Sangat Mesra dengan Prabowo
Sekadar informasi, wacana pertemuan dua kubu yang bersaing dalam Pemilu 2024 ini—terutama bersaing dalam Pemilihan Presiden (Pilpres)—mulai bergulir pada Senin, 25 Maret 2024. Ketika itu politikus PDIP Junimart Girsang menjawab pertanyaan wartawan tentang apakah ada kemungkinan partai koalisi pendukung Ganjar-Mahfud bertemu dengan partai koalisi pendukung Prabowo-Gibran pasca-Pemilu.
“Dalam politik, apa yang tidak mungkin, yang tidak mungkin bisa mungkin dalam politik? Sepanjang itu untuk kebaikan, untuk kemaslahatan masyarakat dan rakyat, kenapa tidak? Kan boleh-boleh saja, kita tunggu saja,” kata politikus PDIP Junimart Girsang di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin, 25 Maret 2024.
Setelah itu, wacana rencana pertemuan Megawati dan Prabowo—di mana keduanya merupakan representasi utama kedua kubu yang berkompetisi—menyusul bergulir.
Puan Maharani pun mengamini kemungkinan pertemuan antara Megawati dengan Prabowo. “Insya Allah (Megawati dan dirinya akan bertemu Prabowo),” kata Puan sambil tersenyum, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2024.
Namun demikian, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP itu tidak menjelaskan kapan rencana tersebut bakal direalisasikan.
Apakah rencana pertemuan kedua tokoh politik nasional itu bakal mengulang rekonsiliasi besar seperti tahun 2019, ketika Jokowi sebagai pemenang Pemilu kali itu merangkul Prabowo—yang menjadi rivalnya pada 2 kali Pemilu, 2014 dan 2019? Puan hanya menjawab, “Iya enggak ya.”
Sementara itu, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad hanya menjawab, “Komunikasi (dengan PDIP) setiap hari,” ketika dimintai keterangan oleh wartawan terkait wacana pertemuan Megawati dan Prabowo.
Apakah ada kemungkinan pertemuan tersebut bakal terealisasi?
Menurut komunikolog politik dan hukum nasional Tamil Selvan, hubungan emosional dan ‘kemesraan’ PDIP dengan Prabowo Subianto sebenarnya tidak bisa dibelah, apalagi rusak hanya gara-gara kontestasi Pemilu 2024. Menurut pria yang akrab disapa Kang Tamil ini, tak ada pertikaian antara Prabowo-Gibran dengan PDIP. Hanya Ganjar Pranowo sebagai capres yang sedang bertikai dengan kubu 02.
“Kalau kita mau lihat apakah PDIP bermasalah dengan Prabowo, saya justru tidak melihat ada premis itu. PDIP itu sangat mesra sama Prabowo,” kata Kang Tamil, dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (29/3).
Apalagi, sambung dosen Universitas Dian Nusantara itu, Prabowo dan Megawati Soekarnoputri punya sejarah panjang. Misalnya, Prabowo pernah jadi calon wakil Megawati pada Pemilu 2009.

“Begitu juga (ada) chemistry Prabowo dan Megawati sejak perhelatan Pilpres 2014 dan 2019. Jadi, hubungan emosional itu enggak mungkin bisa dibelah. Kalau pun hari ini ada pertikaian di MK, itu pertikaian antar paslon, dalam hal ini Ganjar,” pungkasnya.◼︎ FARIED WIJDAN/ACHMAD SULTHON





