Syekh Siti Jenar (3): Dianggap Kafir karena Berbeda Pandangan

Serat Siti Djenar (1922) menggambarkan perbedaan ajaran di antara Wali Songo dalam bentuk tembang Asmaradhana, yang artinya sebagai berikut,

…demikianlah Sunan Bonang yang mula-mula membabar ilmunya begini, “Menurut hemat kami yang disebut iman, tauhid, dan makrifat adalah mengetahui kesempurnaan. Namun demikian, selama orang yang makrifat itu masih membatasi diri pada makrifat yang belum sempurna, pengetahuannya masih kosong karena masih diliputi oleh aneka macam unsur kebendaan.”

Lebih lanjut Sunan Bonang berkata, “Kesempurnaan orang yang telah sempurna makrifatnya, pandangannya akan hilang lenyap, tidak ada yang dilihat, ia menjadi penglihatan Tuhan yang Mahaagung, yang menyembah menjadi Yang Disembah. Semua kehendaknya hilang karena ia sudah diliputi Yang Maha Berkehendak. Tidak ada gerak yang disengaja sebagai pribadi karena diri telah menjadi buta, tuli, dan bisu, semua lenyap. Semua gerak berasal dari Allah.”

Bacaan Lainnya

Sinuhun Majagung memaparkan ilmunya, “Menurut pendapat kami, di akhirat tidak ada lagi yang disebut iman, tauhid, dan makrifat. Semua itu hanya ada di sini (dunia); di akhirat sudah tidak ada lagi. Hubungan yang sejati antara kawula dengan Gusti terungkap dalam memuji dan menyembah. Perbuatan serupa itu di akhirat tidak ada lagi. Bila orang tidak beriman dan tidak mengenal ilmu sejati, dia tidak berkembang menjadi manusia sempurna.

Sunan Gunung Jati membabar ilmu sebagai berikut, “Yang disebut makrifat ialah memandang Tuhan sedemikian rupa, sehingga di luar Dia tidak ada lagi sesuatu. Tidak ada dua atau tiga. Allah hanya Tunggal.”

Sunan Kalijaga berkata, “Arahkan perhatianmu kepada yang berikut tanpa ragu-ragu. Manusia harus memandang Tuhan, tetapi bagaimana cara memandang-Nya, karena Tuhan tidak memiliki rupa, tidak bertempat dan tidak berwarna, tidak berwujud dan tidak terikat tempat (maqam) dan waktu (zaman). Sebenarnya, ada-Nya ialah tiada, tetapi andaikata Dia memang tidak ada, maka alam raya tentu jadi kosong dan tidak ada.”

Syekh Bentong membabar ilmunya pula, “Yang disebut Allah sebetulnya tidak berbeda dengan kawula yang merupakan manifestasi-Nya; Nyawa di dalam kawula itu melaksanakan kemanunggalan tersebut.”

Syekh Maulana Maghribi membabar ilmunya sebagai berikut, “Yang disebut Allah sesungguhnya Ada yang mutlak ada…”.

Di dalam perbincangan para wali membabar ilmu rahasia itu, dikisahkan Syekh Lemah Abang (Siti Jenar) membabar ajarannya secara vulgar sebagaimana pandangan Ibnu Arabi yang monistik, yang artinya sebagai berikut,

Syekh Lemah Abang berujar, “Marilah kita berbicara dengan terus terang bahwa Aku ini adalah Allah. Akulah yang sejatinya disebut Prabu Satmata (salah satu nama Syiwa), tidak ada yang lain yang disebut Ilahi.”

Maulana Maghribi menyela, “Tapi itu jisim (tubuh) namanya.”

Syekh Lemah Abang menyahut, “Saya menyampaikan ilmu yang membincang Ketunggalan. Ini bukan jisim (tubuh), dan selamanya bukan tubuh, karena tubuh hakikatnya tidak ada. Yang kita bincang adalah ilmu sejati. Kepada semuanya saja, kita buka tabir rahasia ilmu sejati.

Carita Purwaka Caruban Nagari secara lebih singkat menuturkan bahwa Syekh Siti Jenar yang asal Baghdad itu adalah seorang penganut Syi’ah Muntadhar yang pergi ke Pengging di Jawa Timur untuk mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging dan masyarakat. Tetapi, para pemuka agama tidak suka dan memusuhinya. Dia dikisahkan dibunuh oleh Sunan Kudus menggunakan Keris Kanthanaga senjata milik Susuhunan Jati Purba atau Syekh Datuk Kahfi. Pembunuhannya terjadi di dalam Masjid Sang Cipta Rasa pada tahun 1505 M dan dimakamkan di Mandala Anggaraksa, Cirebon.

Selain menganut Tarekat Akmaliyah, Syaikh Lemah Abang juga menganut tarekat Syathariyah yang diperoleh dari saudara sepupunya sekaligus guru rohaninya, Syekh Datuk Kahfi. Silsilah Tarekat Syathariyah yang diperoleh Syekh Datuk Abdul Jalil dari Syekh Datuk Kahfi. Syekh Siti Jenar juga disebut-sebut sebagai penganut Tarekat Rifaiyah, sebuah aliran tarekat yang didirikan oleh Syekh Ahmad Rifai (w. 1181 M).

Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran- ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar, yaitu Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. [—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

 

 

Pos terkait