Nagara Kretabhumi Sargha III juga secara rinci menyebutkan siapa saja pejabat tinggi kerajaan dan tokoh berpengaruh yang menjadi murid Syekh Siti Jenar, antara lain: Ki Ageng Kebo Kenongo, Bupati Pengging; Pangeran Panggung; Sunan Geseng; Ki Lonthang; Ki Datuk Pardun; Ki Jaka Tingkir Sultan Pajang; Ki Ageng Butuh; Ki Mas Manca; Ki Gedeng Lemah Putih; Pangeran Jagasatru; Ki Gedeng Tedang; Pangeran Anggaraksa; Ki Buyut Kalijaga; Ki Gedeng Sampiran; Ki Gedeng Trusmi; Ki Gedeng Carbon Girang; Pangeran Cuci Manah, Pangeran Carbon; Ki Buyut Weru; Ki Buyut Kamlaka; Ki Buyut Truwag; Ki Buyut Tuk Mudal; Dipati Cangkuang; Pangeran Panjunan; Syekh Duyuskani/Pangeran Kejaksan; Pangeran Kajawanan; Dipati Suranenggala; Pangeran Mungsi; Ki Gedeng Ujung Gebang; Ki Gedeng Panguragan; Ki Gedeng Ender; Ki Buyut Bojong; dan Ki Buyut Kedokan.
Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, selain murid-murid yang telah disebut di dalam Nagara Kretabhumi, ada murid Syekh Lemah Abang yang lain, yaitu Ki Gedhe Paluamba, adik Ki Gedeng Kemuning yang tinggal di Luragung yang semula berguru kepada Susuhunan Jati (sisyanira ika yata Ki Gedhe Paluamba rayinira Ki Gedheng Kemuning yata haneng/ Luragung Ki Gedhe Paluamba witan ikangsisyanira Susuhunan Jati//).
Sementara Babad Jaka Tingkir menceritakan bahwa ada lebih dari 40 tokoh pada masa itu yang berguru kepada Syekh Siti Jenar, antara lain: Ki Ageng Banyubiru; Ki Ageng Getas Aji; Ki Ageng Balak; Ki Ageng Butuh; Ki Ageng Ngerang; Ki Ageng Jati; Ki Ageng Tingkir; Ki Ageng Watalunan; Ki Ageng Pringapus; Ki Ageng Nganggas; Ki Ageng Ngambat; Ki Ageng Babadan; Ki Ageng Wanantara; Kiai Majasta; Ki Ageng Tambak Baya; Ki Ageng Baki, Ki Ageng Tembalan; Ki Ageng Karanggayam; Ki Ageng Ngargaloka; Ki Ageng Kayu Purin; Ki Ageng Salandaka; Kiai Ageng Purwasada; Kebo Kangan; Kiai Ageng Kebonalas; Ki Ageng Waturante; Kiai Ageng Taruntum; Kiai Ageng Pataruman; Kiai Ageng Purna; Kiai Ageng Kare; Kiai Ageng Candhi; Kiai Ageng Wanasaba; Kiai Ageng Gugulu; Kiai Ageng Gunung Pragota; Kiai Ageng Ngadi Baya; Kiai Ageng Karungrungan; Kiai Ageng Jatingali; Kiai Ageng Wanadadi; Kiai Ageng Tambangan; Kiai Ageng Ngampuhan; Kiai Ageng Bangsri; dan Kanjeng Kiai Ageng Pengging.
Sementara cerita tradisi di kalangan pengikut Tarekat Akmlaiyah menyebutkan bahwa salah seorang murid Syekh Datuk Abdul Jalil bernama Ki Dang Hyang Nirartha, menjadi pendeta besar di negeri Bali, lalu mengajarkan paham manunggaling kawula-Gusti kepada orang-orangHindu dan Buddha di Bali.
Sementara itu, menurut Babad Pengging, Suluk Saridin, Serat Siti Jenar, murid-murid Syekh Datuk Abdul Jalil di Jawa adalah Ki Ageng Pengging; Ki Ageng Banyubiru; Ki Ageng Tingkir; Ki Ageng Ngerang; Ki Ageng Butuh; Ki Bhisana; Ki Danabhaya; Ki Chantulo; Ki Pringgoboyo; Syekh Jangkung; Sunan Geseng; dan Ki Lonthang.
Syekh Siti Jenar menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan paran atau asal dan tujuan sebagai titik pangkal paham kemanunggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh, dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili. Maka, praktis, pemahaman spiritualnya mirip dengan pemikiran al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dengan al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.
Syekh Siti Jenarlah yang pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali Songo menyebarluaskan ajaran Islam syariat ala mazhab yang ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yang kebanyakkan beralur pada paham Al-Ghazali.





