Syekh Siti Jenar (3): Dianggap Kafir karena Berbeda Pandangan

Ajaran Tarekat Akmaliyyah, yang pada masa silam dianut dan diamalkan oleh tokoh sufi Husein bin Mansyur al-Hallaj dan Ibnu Arabi, tampaknya sangat mempengaruhi ajaran Syekh Datuk Abdul Jalil atau Syekh Siti Jenar. Sebagaimana pandangan al-Hallaj tentang hulûl, Syekh Datuk Abdul Jalil juga mengajarkan bahwa penciptaan alam semesta ini tidak lain dikarenakan Allah ingin menyaksikan diri-Nya di luar diri-Nya, sebagaimana bunyi hadis Qudsi berikut: “Aku adalah harta yang tersembunyi. Lalu Aku ingin dikenal maka Aku ciptakan makhluk.”

Menurut pandangan Syekh Siti Jenar, sebab semua yang ada adalah Dzat Allah semata, maka saat Allah mencipta alam semesta tidaklah dengan zat lain, melainkan dengan Dzat-Nya sendiri (emanasi). Melalui ciptaan-Nya itulah Allah menyaksikan diri-Nya.

Dengan pandangan ini, sebagaimana Ibnu Araby, Syekh Siti Jenar meyakini bahwa di dalam semua ciptaan (khalq) tersembunyi anasir Sang Pencipta (Haqq). Khalq disebut yang lahir, dan Haqq disebut yang batin. Khalq adalah wujud yang tergantung pada wujud mutlak Tuhan. Tanpa wujud mutlak Tuhan, tidak akan ada khalq yang berwujud. Itu berarti, yang memiliki wujud hakiki adalah Tuhan, sedangkan khalq hanyalah bayangan maya dari Tuhan.

Bacaan Lainnya

Pergumulan menguasai berbagai disiplin keilmuan di Baghdad—yang dewasa itu merupakan pusat peradaban—menjadikan pandangan-pandangan Syekh Datuk Abdul Jalil berbeda dari kelaziman. Ilmu tasawuf yang berdiri tegak di atas fenomena pengetahuan intuitif yang bersumber dari kalbu oleh Syekh Datuk Abdul Jalil diformulasikan sedemikian rupa dengan ilmu filsafat dan manthiq (logika). Karena itulah ajarannya menimbulkan ketidaklaziman dalam pengembangan ilmu tasawuf—yang merupakan pengetahuan intuitif— yang bersifat rahasia, dan serta merta berubah menjadi ilmu yang terbuka untuk dijadikan bahasan filosofis.

Syekh Datuk Abdul Jalil beranggapan bahwa pengetahuan makrifat (gnostik) yang bersifat suprarasional tidak harus dijabarkan dengan sistem isyarat (kode) yang bersifat mistis dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara masuk akal. Sebaliknya, pengetahuan gnostik harus bisa dijelaskan secara rasional yang bisa diterima akal.

Ajaran Syekh Siti Jenar lebih bisa diterima oleh raja-raja Jawa yang telah memeluk agama Islam. Nagara Kretabhumi Sargha III pupuh 77-78, mengisahkan bahwa setelah kembali dari Baghdad, Syekh Datuk Abdul Jalil pergi ke  Malaka dan mengajarkan ilmu agama, hingga akhirnya dikenal dengan gelar Syekh Datuk Abdul Jalil dan  Syekh Datuk Jabalrantas. Dia menikah dengan seorang perempuan Gujarat dan memiliki putra bernama Ki Datuk Pardun dan Ki Datuk Bardud.

Namun, dia tidak lama tinggal di Malaka. Selanjutnya dia pergi ke Jawa, tepatnya di Giri Amparan Jati dan tinggal bersama Syekh Datuk Kahfi, saudara sepupunya. Setelah itu dia tinggal di Cirebon Girang.

Dalam waktu singkat, ia memiliki banyak murid. Dia selalu berdakwah keliling dari satu tempat ke tempat lain sehingga muridnya semakin banyak dan pengaruhnya semakin besar. Murid-muridnya banyak yang berasal dari kalangan pejabat tinggi kerajaan.

Pos terkait