Ajaran ini merupakan tafsir Siti Jenar terhadap QS. Thaha: 14 yang berbunyi: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. ”Aku’‘ dalam ayat tersebut ditafsirkan sebagai kehidupan kita sendiri. Maka, bernapas pun dianggap sebagai ibadah kepada Sang Pencipta.
Dalam kerangka filosofis ini, Syekh Siti Jenar memandang kehidupan di dunia adalah sesuatu yang semu atau palsu. Sedangkan kehidupan sebenarnya adalah alam akhirat, karena di situ manusia hidup kekal.
Dalam paradigma filosofisnya, Syekh Siti Jenar berprinsip tidak terlalu menekankan simbol formalisme dalam mencari kebenaran. Sikap tunduk dan patuh pada Yang Benar itulah yang menurutnya hakikat ajaran agama yang oleh Al-Quran disebut sikap Al-Hanief.
Baik Babad Tanah Jawi, Nagara Kretabhumi, dan Carita Purwaka Caruban Nagari menggambarkan bahwa setelah penumpasan kekuatan Pengging oleh Demak, giliran Syekh Lemah Abang sebagai guru Ki Ageng Pengging yang diburu dan dijatuhi hukuman mati. Namun, agak berbeda dengan tuduhan kepada Ki Ageng Pengging yang dituduh melakukan makar, tidak mau tunduk kepada kekuasaan Sultan Demak yang menyebabkannya dibunuh, Syekh Lemah Abang sebagai guru ruhani Ki Ageng Pengging dituduh telah menyebarkan ajaran sesat Sasahidan dan mengaku dirinya sebagai Allah.
Dalam buku Walisanga, Solochin Salam menyebutkan bahwa Syekh Siti Jenar membenarkan adanya kesinambungan dan persatuan agama-agama samawi atau yang disebut wihdatul adyan. Sikap intelektual inilah yang mendorong Siti Jenar mengeluarkan pernyataan yang dianggap kontroversial: ”Jangan banyak semu. Aku inilah Allah, Aku bernama Prabu Satmata dan tiadalah yang lain dengan nama ketuhanan”.
Nagara Kretabhumi Sargha pupuh 77 secara detail menyebutkan Abdul Jalil—nama muda Syekh Siti Jenar—menuntut ilmu ke Persia dan tinggal di Baghdad selama 17 tahun. Dia berguru kepada seorang mullah Syiah Muntadhar (Syi’ah Imamiyah) dan menguasai berbagai jenis ilmu agama.
Menurut cerita tutur di kalangan penganut Tarekat Akmaliyah—tarekat yang bersanad kepada Syekh Siti Jenar—orang Syiah Muntadhar itu bernama Abdul Malik al-Baghdadi dan kelak menjadi mertua Abdul Jalil.
Selama menuntut ilmu di Baghdad, Abdul Jalil lebih berminat mendalami ilmu tasawuf, sehingga penguasaannya terhadap ilmu tersebut sangat mendalam. Bahkan, karena kesukaannya pada ilmu tasawuf, ia juga berguru kepada Syekh Ahmad yang menganut aliran Tarekat Akmaliyah, yang sanadnya sampai kepada Abu Bakar as-Shiddiq ra. Silsilah Tarekat Akmaliyah yang diperoleh Syekh Datuk Abdul Jalil bersumber dari Syekh Ahmad Baghdadi.





