Pemkot Surabaya meraih Peringkat 1 Kota Terinovatif Nasional pada IGA 2025.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan posisinya sebagai barometer inovasi pemerintahan di Indonesia. Dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025 yang digelar Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Surabaya dinobatkan sebagai Peringkat 1 Kota Terinovatif tingkat nasional.
Tak hanya itu, Pemkot Surabaya juga menyabet penghargaan khusus sebagai pemerintah kota dengan Sebaran Inovasi Urusan Pemerintahan Konkuren Terbanyak Tahun 2025. Dua penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Penghargaan IGA 2025 diberikan berdasarkan penilaian terhadap dampak, keberlanjutan, serta kemampuan inovasi dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Integrasi Data Jadi Kunci
Capaian Surabaya tahun ini ditopang oleh inovasi integrasi digital bertajuk One Data, One Map, One Policy. Inovasi tersebut dinilai mampu mengubah pola kerja birokrasi dari sektoral menjadi terintegrasi secara menyeluruh.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Akhmad Wiyagus menyatakan IGA merupakan bentuk apresiasi negara kepada pemerintah daerah yang menghadirkan inovasi berdampak nyata.
“Perlu kami tekankan bahwa penghargaan ini bukan sekadar simbol atau seremonial, melainkan pengakuan atas kerja nyata dan komitmen berkelanjutan pemerintah daerah,” kata Wiyagus, Kamis (11/12/2025).
Ia menegaskan keberanian daerah dalam berinovasi menjadi faktor penting dalam memperkuat tata kelola pemerintahan. “Kami berharap IGA 2025 menjadi momentum memperkuat ekosistem pemerintahan yang adaptif, berintegritas, dan kolaboratif,” ujarnya.
Mewakili Kemendagri, Wiyagus juga berharap capaian Surabaya dan daerah penerima lainnya dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain. “Besar harapan kami seluruh daerah yang hadir hari ini mampu memacu dan menumbuhkan inovasi berikutnya,” ucapnya.
Intervensi Kebijakan Berbasis Data
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa One Data, One Map, One Policy bukan sekadar digitalisasi layanan, melainkan fondasi pengambilan keputusan strategis berbasis data riil dan peta spasial.
“Alhamdulillah, penghargaan IGA 2025 ini menjadi validasi bahwa kita berada di jalur yang benar. Kebijakan pemerintah tidak lagi berbasis asumsi, tetapi berbasis data dan peta yang akurat,” kata Eri seusai menerima penghargaan.
Ia menyebut inovasi tersebut digunakan untuk menjawab tiga tantangan utama ekonomi daerah, yakni ketahanan pangan, pengendalian inflasi, dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam aspek ketahanan pangan, Pemkot Surabaya memetakan lahan produktif dan aset pemerintah untuk urban farming melalui One Map yang terhubung dengan data stok pangan pada One Data. Skema ini memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga.
Untuk pengendalian inflasi, pemantauan harga komoditas dilakukan secara real-time. Data tersebut memungkinkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan operasi pasar secara tepat sasaran di wilayah yang mengalami lonjakan harga.
Sementara untuk peningkatan PAD, peta digital aset dan objek pajak digunakan untuk meminimalkan kebocoran pendapatan sekaligus memetakan potensi pajak baru yang berkontribusi pada kenaikan PAD tahun 2025.
“Ketika data kita satu dan petanya jelas, kita tahu persis di mana harus intervensi pasar untuk menekan inflasi dan di mana potensi pajak bisa dioptimalkan,” tegas Eri.
Penghargaan kategori Sebaran Inovasi Urusan Pemerintahan Konkuren Terbanyak menegaskan bahwa inovasi telah menjadi budaya birokrasi di Surabaya. Inovasi tidak terpusat pada satu sektor, melainkan tersebar di berbagai urusan, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, hingga infrastruktur.
“Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh warga Surabaya dan jajaran ASN yang terus berinovasi. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk melayani masyarakat dengan cara yang cerdas, cepat, dan solutif,” pungkas Eri. ***





