Sunan Muria (3): Penjaga Ketahanan Pangan, Ekonomi, dan Sosial

Sunan Muria juga dikenal dengan metode dakwahnya yang khas, berbeda dengan metode wali lainnya. Dia berdakwah sembari memberikan kursus gratis kepada masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Sunan Muria paham bahwa masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman—karakter daerah yang menjadi wilayah dakwahnya—kurang dari sisi pengetahuan dan keterampilan. Maka, Sunan Muria pun menyediakan kursus keterampilan khusus untuk para petani, pedagang, pelaut, dan juga nelayan.

Masyarakat mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana cara bercocok tanam, berdagang, menangkap ikan, dan membuat perahu dalam kursus gratis yang diselenggarakan Sunan Muria. Setelah mengajarkan kursus gratis itu, barulah Sunan Muria mulai mengajarkan Islam kepada mereka.

Melalui kursus yang diberikannya, Sunan Muria berhasil membangun kepercayaan dari masyarakat. Dengan demikian, dia bisa lebih mudah menyebarkan Islam kepada masyarakat setempat. Bahkan, tak hanya masyarakat yang tinggal di Gunung Muria dan sekitarnya yang datang ke pada Sunan Muria untuk ikut kursus gratis, masyarakat luar kota hingga luar Jawa juga datang menemui Sang Sunan demi kursus itu. Itulah kenapa Sunan Muria dikenal oleh masyarakat dari luar Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

Selain memberikan kursus keterampilan praktis, Sunan Muria juga mengajarkan pagarono omahmu kanti mangkuk—yang berarti “pagarilah rumahmu dengan mangkuk”. Maksudnya, masyarakat diajarkan agar ringan tangan dan mau membantu orang lain, terutama tetangga terdekat.

Mangkuk yang dimaksud dalam ajaran Sunan Muria itu adalah simbol sedekah. Versi lain menyebutkan perintah “pagar mangkuk” Sunan Muria itu merujuk pada imbauan untuk melindungi orang-orang sekitar atau terdekat kita, di mana orang-orang terdekat itu ibarat berada satu mangkuk dengan kita.

Ajaran pagar mangkuk  tak hanya menguatkan nilai sosial masyarakat secara lahiriah, tetapi juga batiniah. Praktik ajaran pagar mangkuk mensyaratkan beberapa nilai positif yang bisa mendorong guyub rukun warga tanpa terkecuali. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kemauan saling berempati, tepa selira dan asah, asih, asuh pun menjadi lekat sebagai laku hidup sehari-hari para pengamal ajaran pagar mangkuk.

Sesama warga jadi saling mengerti, saling menjaga, dan selalu berusaha berbuat baik kepada sesama. Dengan kesepahaman itu, tak ada lagi warga yang kelaparan, karena tetangganya sigap membantu. Pagar mangkuk Sunan Muria ini pun menjadi solusi ketahanan nasional dalam bidang pangan, ekonomi, dan sosial.  [Selesai]

| Diolah dari Berbagai Sumber

————————-

Epilog:

Samudra Fakta mencukupkan pembahasan fakta-fakta mengenai sejarah Wali Songo pada episode terakhir Sunan Muria ini.

Untuk selanjutnya, Samudra Fakta akan mengulas perjalanan sejarah bangsa ini pasca-periode Wali Songo dengan segala pergulatannya—terutama tentang persoalan sensitif terkait konsep negara dan agama, masalah yang masih menjadi polemik hingga saat ini.

Ikuti terus ulasan sejarah khas Samudra Fakta, yang selalu menampilkan sudut pandang baru yang berpijak pada sumber-sumber otentik yang bisa diklarifikasi.

Jangan ketinggalan!

Pos terkait