Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai Begawan Ekonomi, tapi ia lebih suka disebut “pengangkut bahan bangunan”—simbol kerendahan hati yang mencerminkan hidupnya.
Publik mengenal Sumitro Djojohadikusumo sebagai Begawan Ekonomi Indonesia. Namun, pria kelahiran 1917 itu justru menolak julukan besar. “Saya bukan arsitek kebijakan, hanya pengangkut bahan bangunan,” katanya suatu kali. Bagi Sumitro, ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan angka, melainkan ilmu tentang manusia—tentang bagaimana hidup bisa lebih adil dan bermartabat.
Kesederhanaan itu sudah tampak sejak masa kuliahnya di Rotterdam. Ia gemar membaca sastra dan filsafat, terutama karya André Malraux yang diyakininya sebagai man of action—pemikir yang mewujudkan ide lewat tindakan. Dari sanalah Sumitro belajar, bahwa impian manusia harus dijaga agar tak tunduk pada kekuasaan. Prinsip itu kelak menuntunnya merumuskan kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil.
Pemikirannya melahirkan program Gerakan Benteng, yang memberi peluang bagi pengusaha pribumi agar tak kalah dari modal asing. “Warisan penting Sumitro adalah gagasan tentang ekonomi rakyat,” ujar ekonom M. Dawam Rahardjo (2017). Sebagai pengajar, Sumitro juga dikenal keras tapi hangat. Ia tak sekadar mengajarkan teori, melainkan melatih mahasiswanya berpikir kritis.
Di balik ketegasan dan kritik tajam terhadap utang luar negeri, Sumitro dikenal punya humor hangat. Ia bisa bercanda soal kopi Banyumas di Prancis, atau menertawakan dirinya sendiri saat membaca Keynes. Hingga akhir hayatnya, ia tetap rendah hati. “Saya kira saya bukan arsitek kebijakan ekonomi,” ujarnya, “yang dapat saya klaim hanyalah bahwa saya telah mengangkut sejumlah bahan bangunan.”
Selengkapnya simak di sini.





