Khrushchev mengaku pernah membujuk Sukarno agar mengadopsi komunisme seperti negaranya. Namun, bujukannya gagal total. Khrushchev pun sadar kalau Sukarno bukanlah seorang yang mudah dipengaruhi, apalagi didikte.
Di hari terakhir kunjungannya di Indonesia, pada tahun 1960, Khrushchev menyebut bangsa Indonesia dapat menentukan sendiri pilihan ideologinya. Dia juga mengakui jika bangsa Indonesia tidak perlu mencontoh model Soviet.
“Bangsa Indonesia dapat menentukan jalannya sendiri. Saya tidak mengajak Indonesia menjadi komunis,” kata Khrushchev.
Saat ngobrol dengan Sukarno, Khrushchev sambil bercanda merajuk agar masih bisa berdiskusi tentang komunisme dengan Sukarno, meski bangsa Indonesia tidak membutuhkannya. “Saya harap Anda tidak keberatan jika saya berdiskusi tentang komunisme,” kata Khrushchev pada Sukarno.
Banyak kemiripan antara Sukarno dan Khrushchev. Selain sama-sama disebut sebagai tokoh kontroversial dan multidimensi, keduanya juga dipuja bak dewa dan dicerca seperti bandit. Sukarno dianggap sebagai pahlawan besar Asia-Afrika dan founding father bagi bangsanya. Namun, tidak sedikit yang mengangapnya sebagai seorang diktator, komunis, ”Don Juan”, dan berbagai tuduhan miring lainnya.
Begitu pula dengan Khrushchev. Ia dipuja sekaligus dikutuk oleh bangsanya sendiri. Oleh pendukungnya, ia dianggap berjasa membawa angin perubahan besar bagi Uni Soviet menuju era yang lebih terbuka, moderat, demokratis, dan maju.
Di masa pemerintahannya, Khrushchev memunculkan pemikiran-pemikiran progresif saat berusaha mengakhiri Perang Dingin, termasuk berhasil merajut tali pertemanan dengan Dunia Barat. Ia menginisiasi diakhirinya perlombaan senjata dan menggantinya dengan kerja sama di berbagai bidang dengan Amerika Serikat. Namun, di akhir pemerintahannya, ia dituduh salah memimpin dan dianggap telah berkhianat terhadap ajaran Stalin gegara memilih berkompromi dengan Amerika.
Sukarno dan Khrushchev juga memiliki kesamaan di akhir karir politik mereka. Keduanya menjadi tokoh yang terbuang di negerinya sendiri, dipinggirkan, dan dilupakan oleh anak-anak bangsanya sendiri. Pasca-peristiwa Gerakan Satu Oktoboer atau Gestok 1965, Sukarno mulai kehilangan kekuasaan. Dia wafat dalam tahanan rumah. Setelah itu, berlangsunglah apa yang kerap disebut sebagai ’desukarnonisasi’.
Hal serupa juga dialami Khrushchev. Ia dilengserkan dari kekuasaannya oleh para elite komunis dan militer Soviet tahun 1964, beberapa hari setelah pertemuan terakhirnya dengan Sukarno. Setelah lengser, ia tinggal di sebuah rumah kecil, di bawah pengawasan ketat pemerintahnya.
Dia meninggal dunia tahun 1971—sekitar setahun setelah Sukarno mangkat.(…bersambung...)
(Wijdan | Disarikan dari buku Sukarno & Khrushchev: Beda Ideologi, Satu Hati)
Keterangan Foto Utama: Sukarno membuju Nikita Khrushchev makan durian ketika Khrushchev berkunjung ke Jakarta, 1960. (Dok. Kundjungan Presiden Republik Indonesia ke Sowjet Uni.)





