SURABAYA | SAMUDRA FAKTA – Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya memiliki beberapa titik lokasi di mana terdapat peninggalan fisik sejarah di situ. Salah satunya Makam Peneleh, atau lebih dikenal dengan nama Makam Belanda Peneleh, yang berusia ratusan tahun. Makam bernilai sejarah yang kondisinya makin parah.
Makam bernama asli De Begraafplaats Peneleh Soerabaja ini diresmikan pada 1 Desember 1847 dan menjadi makam tertua di Jawa Timur. Makam ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir warga Eropa di Surabaya.
“Makam Peneleh dibangun karena makam yang sebelumnya berada di kawasan Krembangan sudah penuh,” ujar Kuncarsono Prasetyo, pemerhati sejarah Kota Surabaya, dikutip Rabu, 14 Juni 2023.
Lokasi makam seluas 5,4 hektare ini bersebelahan dengan Puskesmas Peneleh. Setiap nisan ditandai dengan kode berbeda dan berciri khas. Ada yang dilapisi batu marmer, ada yang diukir dengan batu berwarna putih, ada juga yang diukir dari baja dengan simbol-simbol tertentu. Hiasan seperti tanda salib dan malaikat kecil juga terlihat menghiasi nisan.
Mengamati nama-nama yang tertulis pada nisan Makam Peneleh menjadi hal yang menarik. Pasalnya, satu liang bisa diisi lebih dari dua orang. Makam tersebut memang boleh ditumpuk dengan anggota keluarganya yang lain.
Adapun perbedaan bentuk batu nisan, kata Kuncar, menggambarkan kelas sosial yang berbeda pula. Karena yang dimakamkan di sini tak hanya warga Eropa biasa, namun juga gubernur jenderal, komandan perang, pendeta, hingga wakil mahkamah agung.
Ada beberapa tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di Makam Belanda ini dan pernah menjadi pejabat pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Di antaranya makam Gubernur Jendral Hindia Belanda ke 47 Pieter Markus; Pendeta Iponer Ordo Yesuit di Surabaya Martinus Van Den Elsen; makam puluhan biarawati dan Kepala Suster Ursulin; dan makam Komandan Perang Indochina bernama Neubronnner Van Der Tuuk.
Sayangnya, lubang besar banyak terlihat di bagian bawah Makam Peneleh. Adanya lubang ini, kata Kuncar, karena beberapa sebab.





