Siapa Saja yang Usulkan Gelar Pahlawan untuk Soeharto — dan Mengapa Mereka Mengusulkannya?

Antara pahlawan dan penguasa — sejarah selalu punya dua sisi. Yang satu ingin dikenang, yang lain ingin dilupakan. - Ilustrasi dibuat menggunakan SORA

Bagi Golkar, pengusulan ini bukan semata penghormatan pribadi, tapi juga upaya rekonsiliasi sejarah Orde Baru—menonjolkan sisi pembangunan dan stabilitas di tengah bayang-bayang pelanggaran masa lalu.

NasDem: Politik Realisme dan Objektivitas

Dukungan juga datang dari Partai NasDem. Ketua Umum Surya Paloh mengaku setuju dengan usulan gelar itu, meski menyadari kontroversinya. “Bangsa ini harus objektif. Ada jasa besar Soeharto bagi pembangunan yang tak bisa dihapus hanya karena luka sejarah,” ujarnya di NasDem Tower, Jakarta (9/11).

NasDem menilai bahwa di balik represi politik dan kasus HAM, Soeharto tetap mewariskan infrastruktur ekonomi, sistem pemerintahan, dan stabilitas nasional yang menopang Indonesia modern.

Bacaan Lainnya

Pendekatan ini disebut sebagai politik realisme: mengakui jasa tanpa menafikan kesalahan.

Ormas Islam: Antara Penghargaan dan Pengampunan

Dari masyarakat sipil, dukungan datang dari sejumlah tokoh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menilai Soeharto “berjasa besar sejak masa revolusi hingga pembangunan,” terutama dalam Serangan Umum 1 Maret dan program swasembada beras.

Sementara dari PBNU, Gus Fahrur Ahmad Rozi menegaskan, “Memberi gelar pahlawan tidak berarti menutup mata terhadap kekeliruan, tapi menghargai jasa yang nyata.”

Sikap ini menggambarkan pandangan moderat: mengakui kemajuan yang dicapai, tanpa menafikan pelajaran moral dari kekuasaan yang berlebihan.

Kelompok Petani: “Presiden yang Mengangkat Harga Gabah”

Dukungan paling vokal di akar rumput datang dari Forum Komunikasi Alumni Petani Indonesia (Forkapi). Mereka menilai Soeharto layak jadi Pahlawan Nasional karena swasembada pangan dan program Bimas-Inmas yang mengubah wajah pertanian Indonesia.

“Zaman Pak Harto, petani dihargai. Gabah kami dibeli, pupuk tersedia, sawah terjamin,” bunyi deklarasi Forkapi yang dikutip tvOne.

Bagi kelompok ini, Soeharto bukan sekadar presiden, tapi simbol masa ketika negara hadir di sawah dan lumbung padi rakyat.

Akademisi dan Pejabat: Membaca Sejarah Secara Dingin

Dari kalangan akademik, Dr. Agus Suwignyo, sejarawan UGM, menyebut Soeharto memenuhi kriteria formal pahlawan nasional, terutama dari sisi perjuangan militer.

Pos terkait