Kembali Mendalami Spiritual
Sosrokartono memutuskan kembali ke Tanah Air pada tahun 1925. Sekembalinya ke Nusantara, menurut beberapa catatan sejarah, dia berguru kepada KH. Hasyim Asyari—yang pernah sekamar dengannya waktu nyantri kepada Kiai Sholeh Darat—yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya.
Keterangan tersebut, salah satunya, sebagaimana diungkapkan sejarawan Aguk Irawan. Menurut Aguk, ketika Sosrokartono baru mudik dari Eropa, setelah menemui ibundanya, Nyai Ajeng Ngasirah, orang pertama yang ditemui adalah Kiai Hasyim Asy’ari.
Sedangkan sebuah versi lain—yang kemungkinan juga masih berkaitan dengan versi Aguk—diungkapkan oleh pemerhati budaya Agus Widjojanto. Dikutip dari jppn.com pada 5 September 2023, Agus menerangkan, saat awal-awal meletusnya Perang Dunia II, Sosrokartono memutuskan pulang untuk menemui guru spiritualnya di Mojoagung, Jombang, Jawa Timur.
“Setelah bertemu guru spiritualnya, pandangan dan gaya hidup Sosrokartono berubah. Dia meninggalkan seluruh harta dan jabatannya yang ada di Eropa dan memutuskan pulang untuk mengabdi kepada bangsanya,” ungkap Agus. Dia tidak menyebut nama guru spiritual dari Sosrokartono tersebut.
Sementara itu, menurut KH. Mochammad Muchtar Mu’thi, Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah—dalam salah ceramahnya di bulan Ramadhan 1445 H—sepulang berpetualang dari Eropa, orang pertama yang ditemui Sosrokartono adalah sahabatnya, Kiai Munthaha di Pondok Pesantren Kedungmacan, Sambong, Jombang. Kiai Muchtar Mu’thi sendiri juga merupakan murid Kiai Munthaha.
Menurut Abd. Syakur dalam buku Tarekat dan Gerakan Sosial Keagamaan Dinamika Tarekat Shiddiqiyah di Indonesia(2021), Kiai Munthaha adalah Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah dan Akmaliyah.
Beberapa informasi sejarah dari masyarakat Jombang juga menyebut bahwa ayah Presiden pertama RI Sukarno, Raden Soekeni, sempat berbaiat tarekat kepada Kiai Munthaha. Dua pendiri Jam’iyah NU, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah juga dicatat pernah mengaji kitab tasawuf kepada Kiai Munthaha.
Setelah sowan ibunda dan tokoh-tokoh di atas, Sosrokartono memutuskan untuk menetap di Bandung. Di Kota Kembang itulah Sosrokartono mulai menjalankan misi nasionalisnya, sekaligus mengamalkan ajaran tasawuf Islam yang banyak dipelajarinya dari ulama-ulama di Jombang.





