Setelah Gencatan Senjata Iran-Israel: Senjata Diam, Ekonomi Masih Terancam

Ilustrasi | Samudrafakta

Lebih dari itu, ekspor kita juga bisa terdampak. Banyak komoditas unggulan—seperti kelapa sawit, karet, dan tekstil—bergantung pada biaya produksi dan pengiriman yang murah. 

Saat harga energi naik, biaya ekspor ikut membengkak. Produk kita bisa kalah saing di pasar global.

Belum lagi risiko perlambatan ekonomi global. Negara-negara besar, yang ekonominya sudah rentan, bisa memilih mengerem impor. Kalau permintaan turun, ekspor kita makin lesu. Kita bisa terkena dua pukulan sekaligus: biaya naik, permintaan turun.

Bacaan Lainnya

Jadi, kendati senyapnya senjata memberi harapan, kita tak boleh lengah. Pemerintah harus sigap menyusun langkah. 

Diversifikasi ekspor bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kita tak bisa terus bergantung pada komoditas mentah yang sensitif terhadap harga energi. Industri hilir perlu diperkuat. Nilai tambah harus ditingkatkan.

Selain itu, ketahanan energi nasional harus diprioritaskan. Ketergantungan pada minyak impor membuat kita rentan. Investasi di energi terbarukan dan biofuel perlu dipercepat. Bukan hanya soal lingkungan, tapi juga strategi ekonomi.

Untuk masyarakat, penting untuk sadar bahwa konflik jauh di sana bisa punya efek langsung di sini. Harga minyak bukan hanya soal pompa bensin, tapi juga harga beras, tiket bus, bahkan peluang kerja. Kita semua punya alasan untuk peduli.

Gencatan senjata ini mungkin memberi jeda, tapi bukan jawaban jangka panjang. Dunia masih rapuh. Dan kita, sebagai bagian dari ekonomi global, harus siap menghadapi segala kemungkinan.***

Pos terkait