Menurut Dedi, rendahnya angka kepuasan terhadap Gibran tidak serta-merta menunjukkan kinerja buruk, tetapi mencerminkan terbatasnya kewenangan yang dimiliki seorang wakil presiden. “Wakil presiden tidak memiliki kewenangan melekat atas jabatannya, kecuali tugas yang diberikan langsung oleh presiden,” jelasnya.
Dedi menambahkan, survei ini hanya mengukur persepsi publik terhadap keberadaan Gibran dalam mendampingi Presiden Prabowo, bukan kinerja personal.
Gibran Dinilai Kehilangan Arah Sebagai Figur Muda
Pengamat politik dan Direktur Eksekutif SCL Taktika, Iqbal Themi, menilai Gibran kehilangan arah sebagai figur muda yang sempat digadang sebagai simbol regenerasi politik nasional.
“Di satu sisi Gibran diharapkan tampil sebagai wajah baru politik muda yang progresif, tetapi di sisi lain ia juga dibaca publik sebagai simbol keberlanjutan dinasti kekuasaan keluarga Jokowi,” kata Iqbal di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Benturan dua narasi itu, lanjut Iqbal, membuat langkah politik Gibran tampak gamang. “Gibran seperti berdiri di antara dua dunia kekuasaan — generasi lama yang masih dominan dan generasi muda yang mulai kecewa karena tak merasa diwakili,” ujarnya.
Iqbal juga menyoroti program “Lapor Mas Wapres” yang sempat diluncurkan Gibran di awal masa jabatan, namun belum berhasil menjadi ruang efektif bagi anak muda untuk menyampaikan aspirasi.
Ia menambahkan, Gibran masih jarang muncul dalam isu publik yang menyentuh generasi muda seperti gerakan #IndonesiaGelap, #KaburAjaDulu, hingga gelombang protes mahasiswa terhadap DPR.
“Dalam momen seperti itu, anak muda tentu berharap Gibran tampil di depan, menerjemahkan keresahan mereka jadi suara politik yang didengar kekuasaan,” ujar Iqbal.
“Tapi sejauh ini, harapan itu belum terwujud,” pungkasnya.***





