Sepuntung Kretek di Tangan Haji Agus Salim: Asap yang Menjaga Martabat Republik

(Foto: dari Akun @KomunitasKretek/Sa’adatus)

“Untuk menemukan Prof Agus Salim, kami hanya perlu mengikuti hidung kami sendiri.” Menurut mahasiswa itu di mana ada bau kretek, di situ pasti ada Prof Agus Salim, karena di Universitas Cornell, hanya Prof  Agus Salim seorang yang merokok kretek.

Dalam urusan kretek ini pula, kuliah pernah tertunda sepuluh menit. Gegara Kahin  sang asisten, kesulitan dan terlambat menemukan kretek.

Kenapa rokok kretek pernah dijadikan sebagai alat diplomasi oleh Agus Salim? Barangkali karena dia berdarah minang, yang memegang kearifan Minang. Seperti yang tertuang dalam sastra minang “Datuak baringin sonsang, baduo jo pandeka kilek, hisoklah rokok nan sabatang, supayo rundiangan nak nyo dapek”. Artinya, ketika rokok sudah dibakar dan dihisap maka perundingan atau musyawarah sudah bisa dimulai. Maka dari itu, ia sangat suka merokok kapanpun dan di manapun, rokok favoritnya yaitu rokok kretek, yang ada cengkehnya.

Bacaan Lainnya

Sejarah perjuangan Republik Indonesia, mustahil melupakan peran dan eksistensi Haji Agus Salim (1884-1954), seorang ulama, diplomat dan pembela bangsa. Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin mengaku heran, seorang tokoh agama seperti Salim menyenangi buku-buku Nietzsche, seorang filsuf Jerman akhir abad XIX yang dianggap atheis itu.

Selain dari sisi-sisinya yang “serius” seperti agamawan, budayawan, dan diplomat, Haji Agus Salim adalah tokoh yang amat berwarna. Pemikiran dan ilmu yang dimiliki sang diplomat nyentrik menyebabkannya dipercaya sebagai Menteri Luar Negeri beberapa kali, yaitu:

  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947).
  • Menteri Luar Negeri Kabiner Amir Sjarifuddin I dan II (1947–1948).
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta I dan II(1948–1949).
  • Menteri Luar Negeri Indonesia pada kabinet presidensial dan pada tahun 1950. Sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasihat Menteri Luar Negeri.*

 

Pos terkait