Sepuntung Kretek di Tangan Haji Agus Salim: Asap yang Menjaga Martabat Republik

(Foto: dari Akun @KomunitasKretek/Sa’adatus)

Agus Salim pun menuruti permintaan Brash. Namun tak disangka, diplomasi kretek Agus Salim ternyata begitu membekas di benak Pangeran Philip. Saat pasangan kerajaan hendak meninggalkan Gedung Westminster Abbey, Pangeran Philip tiba-tiba menghampiri Agus Salim untuk memperkenalkannya kepada sang istri, Ratu Elizabeth, seraya berkata, “Gentleman ini berasal dari Indonesia”.

Haji Agus Salim saat melihat lontar di Cornell University, terlihat jarinya menjepit sebatang kretek. (Foto: Dok. errisubakti.wordpress.com).

Sejarawan Lukman Hakiem, dalam tulisannya berjudul Haji Agus Salim: Penikmat Kretek yang Jago Mengajar dan Diplomasi (2023), mengisahkan, pada musim semi 1953, atas prakarsa Prof. George McTurnan Kahin, yang sudah mengenal Haji Agus Salim sejak masa perang kemerdekaan, Haji Agus Salim diundang ke Universitas Cornell.

Pemimpin senior Indonesia itu diminta oleh Cornell untuk menjadi Mahaguru tamu mengampu mata kuliah tentang Islam, dan satu seminar tentang Islam di Indonesia. Kahin yang telah lama mengenal Haji Agus Salim, oleh Ketua Program  Asia Cornell University dipercaya mengasisteni Haji Agus Salim.

Bacaan Lainnya

Sebagai Profesor muda, tugas Kahin sebagai asisten bukanlah menyiapkan atau mencari bahan kuliah untuk Haji Agus Salim, melainkan mencari dan menyediakan rokok kretek untuk sang Mahaguru tamu. Maklumlah, Haji Agus Salim tidak bisa memberi kuliah tanpa kretek di bibirnya.

Kahin yang mengenal Agus Salim sebagai pejabat negara, tidak pernah menyangka bahwa beliau ternyata piawai mengajar. Lantaran kepiawaiannya itu, hari ke hari jumlah mahasiswa peminat kuliah Haji Agus Salim terus bertambah. Akibatnya, ruang kuliah tidak mampu menampung mahasiswa.

Karena itulah, pihak unversitas memutuskan untuk memindahkan tempat kuliah Agus Salim ke ruang yang lebih besar. Petugas mengumumkan rencana pemindahan ruangan itu. Dan ketika dia akan merinci letak ruang yang baru, seorang mahasiswa mengintrupsi. “Tidak perlu dirinci,” katanya. “Semua kami masih punya hidung!”

Pos terkait