Sepuntung Kretek di Tangan Haji Agus Salim: Asap yang Menjaga Martabat Republik

(Foto: dari Akun @KomunitasKretek/Sa’adatus)
Tidak banyak yang tahu, hari ini, 8 Oktober merupakan hari ulang tahun ke-140 Haji Agus Salim. Semasa hidup, Haji Agus Salim dikenal sebagai seorang politikus, jurnalis, dan diplomat dengan julukan “The Grand Old Man”. Pejuang dengan ‘senjata khas’ bernama kretek.

Dia mendapat julukan  “The Grand Old Man”, karena prestasinya di bidang diplomasi dan kefasihannya dalam berbahasa asing. Agus Salim diketahui menguasai tujuh bahasa Asing, yaitu bahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Pemilik nama kecil Masyhudul Haq, yang berarti “Pembela Kebenaran”, adalah putra pasangan Sutan Mohammad Salim, seorang jaksa dan hakim kolonial di Tanjung Pinang dan Siti Zaenab.  Agus Salim lahir pada  8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sewaktu kecil, Agus Salim mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Dia kemudian melanjutkan Hogere Burgerschool (HBS) di Batavia, di mana ia lulus pada 1903 dengan nilai tertinggi di seluruh Hindia Belanda. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 27 Desember 1961, melalui Keppres Nomor 657 tahun 1961.

Bacaan Lainnya
Diplomasi Kretek

Kretek, barangkali bagi Haji Agus Salim, bukan hanya identitas kebudayaan nusantara dan komoduitas semata. Baginya, kretek adalah simbol kedaulatan bangsa. Kretek menjadi  wasilah diplomasi antarbangsa yang ampuh, ‘anti minder’, dan ‘menentukan’.

Haji Agus Salim menjadikan kretek sebagai alat diplomasi yang menegaskan posisi Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Lewat kretek, ia gagah menunjukkan sikapnya sebagai putra pertiwi yang tidak goyah pendiriannya demi membela nusa dan bangsa.

Mahmutarom, dkk., dalam artikel berjudul Biovent Pada Rokok Sigaret Kretek Tangan Dari Perspektif Hukum: Jurnal Ilmu Hukum QISTIE, 15(1) (2022), mengisahkan diplomasi kretek Haji Agus Salim. Dikisahkan pada bulan Desember 1949,  Haji Agus Salim menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar di Den Haag, Belanda.

Dalam sesi rehat, semua orang terganggu karena ruangan dipenuhi asap yang beraroma rempah terbakar.Semua mata tertuju pada seorang pria tua berjanggut yang sedang merokok di pojok ruangan. Rokok kretek campuran dari tembakau, cengkeh, dan lada.

Pos terkait