Dalam kitab tersebut tertulis bahwa Ali menggunakan diksi bahasa Arab “hanin”. Dalam Bahasa Arab, hanin berarti “kerinduan yang besar, rasa kasih dan sayang yang kuat, serta perasaan kedekatan yang sulit digambarkan”. Sednagkan dalam Bahasa Inggris, istilah ini diterjemahkan dengan hanna, hanin: to long, yearn, to feel tenderness, affection, to feel compassion, to blossom. Hanin juga diterjemahkan dengan love atau cinta.
Sebagaimana dicatat dalam Bihar al-Anwar, Ali bin Abi Thalib menilai bahwa seseorang bisa dikatakan mulia ketika dia menangis ketika melihat tanah airnya karena tidak mendarmabaktikan diri untuknya. Sedangkan kecintaan pada tanah air akan membuatnya berusaha berkhidmat sebaik-baiknya untuk negerinya.
Sementara itu, Umar bin Khatab Ra., sebagaimana dikutip Syekh Ismail Haki dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan juz 6 halaman 442, menyatakan, “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan berjaya.”
Artinya, sebagaimana dibabar dalam penjelasan Tafsir Ruhul Bayan, dengan memiliki kecintaan terhadap tanah air, maka setiap orang memiliki keinginan untuk menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air, seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik, dan saling bermusuhan.
Cinta Tanah Air Ulama Indonesia
Rasa cinta terhadap tanah air juga dipegang teguh oleh Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat. Ulama karismatik bergelar Musnidud Dunya atau Penyambung Titik Keilmuan Dunia dikisahkan pernah hampir bersitegang dengan seorang guru di Madrasah Shaulatiyyah di Makkah, tempat ia belajar. Gara-garanya adalah, seorang guru di madrasah itu merobek sebuah surat kabar berbahasa Indonesia yang sedang dibaca oleh para siswa Madrasah asal Nusantara.
Tragedi itu dirasa Syekh Yasin menyayat hatinya. Apalagi keluar komentar pedas dari bibir gurunya. “Bangsa yang terbelakang dan memakai bahasa seperti itu (bahasa Indonesia) tidak akan pernah bisa merdeka,” kata guru Syekh Yasin.
Syekh Yasin pun marah. Dia protes dengan keluar dari madsarah tersebut. Selepas itu, dia melibatkan diri dalam pendirian Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyyah pada tahun 1934. Sikap tegas Syekh Yasin yang mencintai kampung halaman ini dibuktikan dengan cara melawan siapa pun yang menghina dan mendiskreditkan tanah kelahirannya.
Sikap Syekh Yasin sejalan dengan pendapat Mustafa Ghalayain dalam kitab Idzatun Nāsyi’in. Dalam pembahasan ‘al-wathāniyyah’, tertulis dengan jelas bahwa, “Nasionalisme atau kecintaan terhadap tanah air yang nyata adalah dengan mencintai untuk memperbaiki bangsa dan mengabdi kepadanya. Orang yang memiliki jiwa nasionalis siap mati demi kabangkitan bangsanya dan rela bersakit-sakit demi kesehatan masyarakatnya.”
*** Tonton karya jurnalisme sinematik “Cinta Tanah Air Itu Ajaib” persembahan dari REDDOCSID dan Samudra Fakta tepat di Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Bangsa Indonesia! Klik poster di bawah ini biar tidak ketinggalan!






