Sahabat Nabi Muhammad dan Banyak Ulama Selalu Menggelorakan Cinta Tanah Air

Cinta tanah air itu sebagian dari iman.
JAKARTA—Banyak kitab-kitab Islam—baik klasik maupun kontemporer—mencatat bahwa para sahabat Nabi Muhammad dan banyak ulama selalu mengobarkan semangat cinta tanah air. Seruan ini muncul berdasarkan dalil yang jelas. Membantah anggapan sebagian orang Islam yang menyebut seruan cinta tanah air tidak ada dalilnya.

Fakta adanya seruan cinta tanah air dari para ulama ini, salah satunya, dibahas oleh Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih.

Dalam kitab tersebut, Imam Suyuthi mengutip teks hadits yang diriwayatkan sahabat Anas Ra., yang artinya: “Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengabarkan padaku Humaid, bahwasanya ia mendengar Anas Ra. berkata: Nabi Saw. ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah, beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta, maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.”

Menurut Imam Suyuthi, sebagaimana komentarnya dalam kitab tersebut, dalam hadits itu terdapat unsur disyariatkannya cinta tanah air dan merindukannya. Imam Suyuthi juga menelaah ungkapan hubbul wathon minal iman dalam Kitab Al Durar al Muntatsirah fi al Ahadits al Musytaharah.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, Ibnu Hajar al-Asqalany, ulama besar lainnya, mengomentari hadits di atas dalam kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, dengan menulis, “Hadits ini menunjukkan keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air.”

Hal yang sama juga dicatat dalam kitab Umdat al-Qariy Syarah Shahih Al Bukhari karya Badru ddin al-‘Aini.

Sedangkan menurut Al-Hafizh as-Sakhawi, seorang muhaddits atau pakar hadits, ungkapan hubbul wathon minal iman memang populer, tetapi itu bukan hadits. “‘Lam aqif ‘alaihi’, aku tidak menemukannya sebagai hadits,” kata as-Sakhawi.

Namun demikian, bukan berarti ungkapan tersebut salah dan tidak bisa dijadikan pedoman. Menurut murid dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut, kendati ungkapan hubbul wathon minal iman bukan hadits, namun maknanya sahih. Benar.

“Aku tidak menjumpai riwayat ‘hubbul wathon minal iman’ sebagai hadits, sama sekali sebagai hadits, tetapi secara substansial maknanya benar,” tulis Imam as-Sakhawi.

Sementara itu, pada halaman 45 kitab Bihar al-Anwar, tercatat pernyataan sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. terkait kecintaan terhadap tanah air. “Umiratil buldan bihubbil awthan—Negeri akan dimakmurkan dengan kecintaan pada tanah air,” demikian kata Ali, sebagaimana dikutip Bihar al-Anwar.

“Min karamil mar’i bukaa`uhu ‘ala ma madha min zamanihi wa haninihi ilaa awthaanihi—Di antara kemuliaan seseorang adalah tangisannya akan apa yang lepas dari umurnya, dan kecintaannya pada tanah airnya,” ujar Ali lagi dalam halaman 264 kitab yang sama.

Dalam kitab tersebut tertulis bahwa Ali menggunakan diksi bahasa Arab “hanin”. Dalam Bahasa Arab, hanin berarti “kerinduan yang besar, rasa kasih dan sayang yang kuat, serta perasaan kedekatan yang sulit digambarkan”. Sednagkan dalam Bahasa Inggris, istilah ini diterjemahkan dengan hanna, hanin: to long, yearn, to feel tenderness, affection, to feel compassion, to blossom. Hanin juga diterjemahkan dengan love atau cinta.

Sebagaimana dicatat dalam Bihar al-Anwar, Ali bin Abi Thalib menilai bahwa seseorang bisa dikatakan mulia ketika dia menangis ketika melihat tanah airnya karena tidak mendarmabaktikan diri untuknya. Sedangkan kecintaan pada tanah air akan membuatnya berusaha berkhidmat sebaik-baiknya untuk negerinya.

Sementara itu, Umar bin Khatab Ra., sebagaimana dikutip Syekh Ismail Haki dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan juz 6 halaman 442, menyatakan, “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan berjaya.”

Artinya, sebagaimana dibabar dalam penjelasan Tafsir Ruhul Bayan, dengan memiliki kecintaan terhadap tanah air, maka setiap orang memiliki keinginan untuk menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air, seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik, dan saling bermusuhan.

Cinta Tanah Air Ulama Indonesia

Rasa cinta terhadap tanah air juga dipegang teguh oleh Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat. Ulama karismatik bergelar Musnidud Dunya atau Penyambung Titik Keilmuan Dunia dikisahkan pernah hampir bersitegang dengan seorang guru di Madrasah Shaulatiyyah di Makkah, tempat ia belajar. Gara-garanya adalah, seorang guru di madrasah itu merobek sebuah surat kabar berbahasa Indonesia yang sedang dibaca oleh para siswa Madrasah asal Nusantara.

Tragedi itu dirasa Syekh Yasin menyayat hatinya. Apalagi keluar komentar pedas dari bibir gurunya. “Bangsa yang terbelakang dan memakai bahasa seperti itu (bahasa Indonesia) tidak akan pernah bisa merdeka,” kata guru Syekh Yasin.

Syekh Yasin pun marah. Dia protes dengan keluar dari madsarah tersebut. Selepas itu, dia melibatkan diri dalam pendirian Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyyah pada tahun 1934. Sikap tegas Syekh Yasin yang mencintai kampung halaman ini dibuktikan dengan cara melawan siapa pun yang menghina dan mendiskreditkan tanah kelahirannya.

Sikap Syekh Yasin sejalan dengan pendapat Mustafa Ghalayain dalam kitab Idzatun Nāsyi’in. Dalam pembahasan ‘al-wathāniyyah’, tertulis dengan jelas bahwa, “Nasionalisme atau kecintaan terhadap tanah air yang nyata adalah dengan mencintai untuk memperbaiki bangsa dan mengabdi kepadanya. Orang yang memiliki jiwa nasionalis siap mati demi kabangkitan bangsanya dan rela bersakit-sakit demi kesehatan masyarakatnya.”


*** Tonton karya jurnalisme sinematik “Cinta Tanah Air Itu Ajaib” persembahan dari REDDOCSID dan Samudra Fakta tepat di Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Bangsa Indonesia! Klik poster di bawah ini biar tidak ketinggalan!

Pos terkait