Jalur distribusi telur dari Blitar, cabai dari Magelang, dan bahan pokok dari berbagai sentra produksi di Jawa terganggu. Truk-truk pengangkut makanan yang biasa memenuhi pasar-pasar di Jakarta, Bandung, dan kota besar lainnya, tertahan di pinggir jalan.
Akibatnya, harga mulai merangkak naik. Bukan karena stok menipis, melainkan karena bahan pangan tak bisa bergerak.
Ironisnya, yang paling duluan terdampak bukanlah perusahaan besar, tetapi warung makan kecil, pedagang sayur di pasar tradisional, dan konsumen kelas bawah yang merasakan lonjakan harga cabai dan telur lebih dulu. Dalam ekosistem pangan yang rapuh, keterlambatan satu hari saja bisa berarti lonjakan harga yang signifikan.
Di balik mogok ini, tersimpan pula kegelisahan yang lebih dalam: para sopir merasa menjadi tumbal dari sistem logistik yang timpang.
Mereka hanya pekerja, namun merekalah yang dikenai ancaman pidana jika membawa muatan berlebih. Padahal, menurut mereka, para pemilik barang dan perusahaan logistiklah yang mendorong praktik ODOL demi efisiensi bisnis.
Tuntutan dan Ketakutan
Tuntutan para sopir sederhana, tetapi mencerminkan kesenjangan besar antara regulasi dan kenyataan di lapangan. Mereka meminta agar aturan ODOL diberlakukan bertahap, bukan tiba-tiba.
Mereka ingin tarif logistik diatur, agar muatan legal tetap bisa menghidupi keluarga mereka. Mereka mendesak agar negara menindak tegas pungli dan premanisme, yang kerap memeras mereka di pelabuhan dan jalan raya.
Satu hal yang menjadi titik genting: mereka tidak menolak regulasi. Mereka menolak dihukum karena sistem yang tak memberi mereka pilihan.
Aksi mogok ini bukan sekadar aksi jalanan. Ini adalah jeritan dari sistem distribusi nasional yang terlalu lama bertumpu pada praktik-praktik informal, dibiarkan bertahun-tahun, lalu tiba-tiba diminta berubah dalam semalam.
Negara di Persimpangan
Pemerintah saat ini berada di persimpangan sulit.
Di satu sisi, Zero ODOL adalah kebijakan penting untuk keselamatan publik dan infrastruktur. Di sisi lain, ekonomi jalan raya Indonesia—yang menopang pangan, bahan bakar, dan distribusi produk—masih sangat tergantung pada truk ODOL.





