Efisiensi Anggaran dan RTH
Dedik menekankan manfaat ganda pengolahan kompos. Selain menekan beban TPA Benowo, kebijakan ini berdampak langsung pada pengeluaran daerah. “Jadi mengurangi belanja pupuk Dinas Lingkungan Hidup Surabaya,” ujarnya.
Kota Surabaya memiliki kebutuhan besar akan kompos untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH). Dengan memanfaatkan hasil olahan sendiri, DLH tak lagi sepenuhnya bergantung pada pembelian pupuk dari pihak luar. “Kita bisa manfaatkan kompos kita sendiri. Selain mengurangi sampah yang masuk ke TPA, juga mengurangi belanja DLH untuk kompos,” tutur Dedik.
Secara akumulatif, pengolahan sampah organik melalui rumah kompos tercatat menghemat biaya pengangkutan Rp6,73 miliar per tahun, serta menekan biaya pengolahan di TPA Benowo hingga Rp7,36 miliar per tahun. Di balik angka-angka itu, ada pergeseran cara pandang: sampah tidak lagi sekadar beban, melainkan sumber daya.
TPS 3R dan Sampah Anorganik
Pengelolaan tak berhenti pada sampah organik. Untuk sampah anorganik, DLH Surabaya mengoperasikan 12 Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R—Reduce, Reuse, Recycle—yang tersebar di berbagai wilayah kota. Kapasitasnya bervariasi, mulai dari 10 hingga 20 ton per hari.
Efeknya signifikan. “Kalau kapasitas TPS 10 ton, residunya tinggal 5 ton,” ujar Dedik, menjelaskan bahwa TPS 3R mampu mengurangi hingga separuh volume sampah yang semula akan dibuang ke TPA Benowo.
Jenis sampah yang dikelola didominasi material anorganik bernilai guna: botol, logam, plastik, kaca, kayu, kertas, hingga karton. TPS 3R juga menangani sampah spesifik yang berisiko bagi lingkungan, seperti baterai bekas, lampu, dan kaleng aerosol.
Dari Beban Menjadi Sistem
Di balik operasi rumah kompos dan TPS 3R, Surabaya sedang merakit sistem pengelolaan sampah yang lebih berlapis: mengurangi dari sumbernya, memaksimalkan pemanfaatan ulang, dan menekan residu seminimal mungkin. Pendekatan ini tidak selalu kasatmata bagi warga, tetapi dampaknya terasa—baik di neraca anggaran maupun di umur panjang TPA.
Sampah, di kota ini, pelan-pelan berhenti menjadi cerita tentang penumpukan. Ia berubah menjadi cerita tentang pengelolaan—dan tentang bagaimana kebijakan lingkungan bisa berjalan seiring dengan disiplin fiskal.***





