RIYADH – Kabar tentang berakhirnya masa jabatan Roberto Mancini sebagai pelatih kepala tim nasional Arab Saudi sudah terprediksi sebelumnya. Hanya setelah kurang dari 14 bulan bertugas, pelatih asal Italia tersebut resmi mengakhiri kontraknya dengan Saudi, seperti dikonfirmasi akun resmi timnas di platform X, Kamis malam waktu setempat.
Pertandingan imbang 0-0 melawan Bahrain di Jeddah pada Rabu (16/10/2024), menjadi tanda jelas perpisahan antara Mancini dengan timnas Arab Saudi. Mancini seperti dlansir Arab News, tampak meninggalkan lapangan dengan ekspresi dan gerak-gerik yang menunjukkan ketegangan, bahkan terlihat bertukar kata dan gestur dengan para suporter di belakang bangku cadangan.
Tanpa perlu memahami bahasa Italia atau Arab, momen itu memberi gambaran hubungan yang mulai merenggang.
Kehadiran Mancini awalnya dianggap sebagai langkah besar bagi sepak bola Arab Saudi. Dengan rekam jejaknya sebagai juara Liga Inggris bersama Manchester City, Serie A bersama Inter Milan, serta gelar Piala Eropa bersama timnas Italia, Mancini digadang-gadang akan menjadi peningkatan kualitas timnas setelah ditinggal Hervé Renard.
Renard mengakhiri masa jabatannya dengan kenangan indah, membawa tim ini lolos mulus ke Piala Dunia dan mencatat kemenangan bersejarah atas Argentina.
Namun, tantangan Mancini dimulai saat Piala Asia pada Januari, di mana Saudi tersingkir di babak kedua setelah terjadi ketegangan dengan beberapa pemain senior.
Awal yang sulit ini sempat diabaikan, dan fokus pun beralih pada persiapan kualifikasi Piala Dunia 2026 serta Piala Asia 2027, yang akan digelar di tanah Arab Saudi.
Meski begitu, hasil yang diharapkan tidak kunjung datang. Di babak kualifikasi kedua, Saudi kalah dari Yordania di kandang sendiri pada Juni. Tanda-tanda kesulitan makin terlihat di babak ketiga dengan hanya tiga gol dari empat pertandingan.
Minimnya daya serang serta strategi permainan yang kurang efektif menjadi kendala, terlebih dalam laga melawan tim-tim seperti Indonesia, China, Jepang, dan Bahrain.
Keputusan untuk terus mempercayakan penalti kepada Salem Al-Dawsari juga menjadi sorotan. Meski Al-Dawsari dianggap pemain paling berbakat di Arab Saudi, dia tercatat gagal mengeksekusi lima dari sembilan penalti untuk negaranya.
Penalti yang gagal melawan Indonesia dan Bahrain terbukti merugikan tim, yang seharusnya dapat unggul poin dari Jepang dan memperlebar jarak dengan Australia.
Mancini sempat mencoba variasi strategi dengan mengubah formasi dari tiga bek menjadi empat bek, namun perubahan tersebut tidak membawa hasil yang diharapkan.
Komunikasinya yang kurang hangat dengan beberapa pemain juga menjadi perhatian, terutama saat tim mengalami hasil yang mengecewakan. Meski kritiknya terhadap minimnya menit bermain para pemain lokal di liga domestik memiliki dasar, lama-kelamaan hal tersebut terdengar seperti alasan.
Di luar lapangan, Mancini terlihat ramah dalam pertemuan sosial dengan penggemar, namun hal ini tidak tercermin dalam sesi konferensi pers atau laga resmi.
Sepak bola memang sering kali seperti ini; ketika hasil tidak memuaskan, hubungan pun akhirnya harus diakhiri. Dengan pertandingan krusial melawan Australia bulan depan—di mana kedua tim memiliki poin yang sama—Arab Saudi memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencari arah baru.





