Bintang memilih Program Studi Hukum Unair bukan karena kebetulan. Ada cita-cita spesifik yang ia rawat: menjadi notaris. Ia menyiapkan diri dengan intensitas yang terstruktur — bimbingan belajar di sekolah, try out tiga kali seminggu, dan keyakinan penuh yang ia dapatkan dari dukungan kedua orang tuanya.
Kesan yang ia bawa dari ruang ujian cukup positif. “Fasilitas di Unair menurut saya bagus, nyaman, dan tertib,” tuturnya. Dan ada satu filosofi yang ia tawarkan kepada sesama pejuang UTBK: jangan biarkan tekanan menggerogoti konsentrasi. Kerjakan, pulang, lupakan — sebuah kebijaksanaan sederhana yang justru terdengar dewasa melampaui usianya.
Di balik pilihan itu, ada alasan yang lebih besar dari sekadar nama kampus. “Saya ingin pendidikan yang lebih tinggi, bagus, dan bereputasi,” kata Bintang. Kalimat pendek itu menyimpan subteks yang tebal: kualitas pendidikan di Pulau Jawa masih menjadi gravitasi tersendiri bagi anak-anak muda dari luar pulau yang ingin mengubah lintasan hidup mereka.
Kisah Kesya dan Bintang bukan anomali — mereka adalah bagian dari arus panjang yang setiap tahun mengalir ke kota-kota besar di Jawa, membawa ijazah SMA dan rasa lapar akan kesempatan. UTBK SNBT adalah gerbang yang terbuka sama lebarnya bagi semua, namun jalan menuju gerbang itu masih berliku bagi mereka yang harus melintasi lautan lebih dulu.
Pada akhirnya, soal-soal ujian itu akan terlupakan — seperti yang disarankan Bintang. Tapi perjalanan ribuan kilometer yang mereka tempuh, dengan segala keberanian dan harapan yang menyertainya, akan tetap diingat. Setidaknya oleh diri mereka sendiri.***





