Ribuan Kilometer demi Satu Kursi di Unair

Pejuang UTBK
Bintang Destriana Rante Kombong Padondan, peserta UTBK asal Kalimantan Timur. HUMAS UNAIR
Dari Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Timur, dua nama perempuan muda melintas batas geografis — membawa harapan, ransel, dan satu keyakinan yang tak terguncang oleh jarak.

Surabaya, 24 April 2026. Ketika pintu ruang ujian di Universitas Airlangga terbuka pada Kamis, 23 April 2026, sebagian peserta yang masuk telah menempuh perjalanan udara berjam-jam — meninggalkan pulau, meninggalkan keluarga, dan mengantongi satu tekad: kursi di perguruan tinggi negeri terbaik.

Di antara ribuan peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes yang hadir di kampus Unair, ada wajah-wajah dari timur Indonesia. Bukan sekadar peserta biasa — mereka adalah representasi dari generasi yang menolak dibatasi oleh koordinat tempat lahir.

Surabaya, Kota Pertama

Kesya Arnelita Ilham tiba di Surabaya untuk pertama kali dalam hidupnya. Gadis dari MAN 1 Kendari, Sulawesi Tenggara itu menempuh penerbangan hampir delapan jam sebelum menginjakkan kaki di kota yang selama ini hanya ia kenal dari nama kampus impiannya. “Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Surabaya,” ujarnya, Jumat 24 April. “Saya sangat senang bisa mengikuti UTBK di Unair karena ini adalah kampus impian saya.”

Bacaan Lainnya

Selama di Surabaya, ia menumpang di rumah sang nenek — satu-satunya jangkar di kota asing itu. Dalam seleksi ini, Kesya memilih program studi ekonomi dan keperawatan, dua bidang yang mencerminkan keluasan mimpi sekaligus kehati-hatian dalam melangkah.

Persiapannya bukan sesuatu yang lahir dalam semalam. Sejak awal kelas XII, ia rutin mengikuti bimbingan belajar dan try out daring — sebuah ritual kesabaran yang dijalani di tengah keterbatasan akses yang kerap menjadi kenyataan di luar Jawa. Baginya, perjalanan ke Surabaya bukan hanya tentang ujian; ini juga tentang menjelajahi dunia yang lebih luas dari sekadar halaman sekolahnya di Kendari.

Fasilitas Unair ia nilai nyaman dan memadai. Tak ada kendala berarti selama ujian berlangsung. Dan di belakangnya, keluarga berdiri teguh — mendukung setiap sesi belajar, setiap lembar soal latihan, setiap langkah keberangkatan. “Saya mendapat dukungan penuh dari keluarga,” katanya, dengan nada yang terdengar seperti ucapan syukur sekaligus pengakuan.

Merantau sejak SMA

Sementara Kesya menumpang di rumah nenek, Bintang Destriana Rante Kombong Padondan memilih cara yang berbeda: ia datang seorang diri. Peserta asal Kalimantan Timur ini bukan asing dengan konsep kemandirian — ia telah merantau sejak duduk di bangku SMA. Selama mengikuti UTBK di Surabaya, ia tinggal di asrama sekolah, menjadikan rutinitas ujian sebagai kelanjutan wajar dari kehidupan yang memang sudah ia jalani jauh dari rumah.

Pos terkait