Sedangkan Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan, prospek perdamaian Palestina memerlukan dukungan sejumlah negara besar selain AS untuk menekan Israel.
“Prospek perdamaian di Palestina, saya kira, kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada negara besar (AS) saat ini, yang memiliki hubungan dekat dengan Israel, karena tidak akan ada pembelaan keadilan terhadap rakyat Palestina,” ujar Yon, dikutip dari beritasatu.com, Selasa, (21/11).
Yon menyebut perlu juga melakukan pendekatan terhadap dua negara kuat lain yang juga fokus pada perdamaian Palestina, yaitu Rusia dan Tiongkok. Pendekatan ini untuk membangun kekuatan tekanan yang berimbang.
“Dengan kehadiran dua negara ini, saya kira akan memberikan keseimbangan (kekuatan dunia), sehingga ketika membicarakan masalah Palestina tidak kemudian melulu harus Amerika,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tengah menjalankan upaya diplomasi ke Tiongkok dan Rusia, bersama sejumlah menteri luar negeri negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI. Diplomasi ke dua anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa ini bertujuan untuk mendesak gencatan senjata dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza yang diblokade oleh Israel.





