PROTEG Dorong Guru Honorer Mandiri Ekonomi

Dinas Pendidikan Jatim
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai (berbatik) dalam acara Coaching dan Awarding 40 Nominator Pengembangan Usaha Guru Tahun 2026. - Humas Dindik Jatim
PROTEG 2026 mendorong guru non-ASN di Jawa Timur mengembangkan usaha lewat pelatihan, pendampingan, dan penguatan literasi digital.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memperkuat pemberdayaan ekonomi guru non-ASN dan Guru Tidak Tetap melalui Program Terapan Ekonomi Guru atau PROTEG 2026. Program ini diarahkan untuk membantu guru membangun usaha yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan PROTEG hadir sebagai ruang penguatan kapasitas guru di luar tugas mengajar. Program ini mengusung semangat “Guru Hebat, Guru Mandiri” dalam kegiatan Coaching dan Awarding 40 Nominator Pengembangan Usaha Guru di Surabaya.

“Guru hebat adalah guru yang terus bergerak, belajar, beradaptasi, dan berani berkembang,” kata Aries dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Rabu, 20 Mei 2026.

Bacaan Lainnya
Dari Kelas ke Dunia Usaha

Melalui program ini, guru mendapat pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha, penjenamaan digital, perluasan akses pasar, hingga penguatan jejaring usaha. Dindik Jatim juga mendorong guru memanfaatkan literasi digital, media sosial, dan lokapasar untuk mengembangkan produk.

Aries menilai guru masa kini tidak cukup hanya menguasai kemampuan mengajar. Mereka juga perlu membangun pola pikir wirausaha agar mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan teknologi.

Jenis usaha yang dikembangkan guru peserta PROTEG cukup beragam. Mengutip laporan ANTARA, bidang usaha itu mencakup kuliner, fesyen, produk digital, edukasi daring, jasa kreatif, pertanian, hingga kerajinan.

Peserta Terus Bertambah

Perkembangan PROTEG juga terlihat dari jumlah peserta. Pada 2024, program ini diikuti 200 peserta. Jumlahnya naik menjadi 500 peserta pada 2025, lalu pada 2026 menjangkau peserta dari 33 kabupaten/kota di Jawa Timur.

ANTARA mencatat rata-rata transaksi usaha guru yang tergabung dalam program ini mencapai Rp5 juta per bulan. Selain pelatihan, ekosistem usaha guru diperkuat melalui pendampingan, penjenamaan, lokapasar, jejaring, dan komunitas wirausaha guru.

Sebanyak 40 nominator pengembangan usaha guru terbaik diharapkan menjadi contoh bagi guru lain. Mereka juga didorong menjadi penggerak kemandirian ekonomi guru di wilayah masing-masing.

“Masa depanmu dibangun dari apa yang engkau lakukan sekarang, bukan esok,” ujar Aries.***

Pos terkait