Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyurati publik AS, mempertanyakan perang dan pengaruh Israel terhadap kebijakan Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirim surat terbuka kepada masyarakat Amerika Serikat, mendesak publik melihat konflik Iran-AS-Israel di luar “narasi yang dibuat-buat”.
Dalam laporan Al Jazeera pada 2 April 2026 menyebut, Pezeshkian mempertanyakan apakah kebijakan “America First” benar-benar dijalankan oleh pemerintahan Donald Trump.
“Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini?” tulis Pezeshkian.
Ia menyinggung dampak serangan terhadap warga sipil dan fasilitas vital, termasuk industri farmasi, yang menurutnya justru merusak posisi global Amerika Serikat.
Tolak Label Ancaman
Dalam surat itu, Pezeshkian menolak narasi bahwa Iran adalah ancaman utama kawasan. Ia menyebut negaranya justru menjadi target serangan saat proses diplomasi masih berlangsung.
Ia merujuk pada konflik yang meningkat sejak 2025, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan industri Iran.
“Menyerang infrastruktur vital Iran secara langsung menargetkan rakyat,” tulisnya. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan memperpanjang siklus konflik.
Laporan Reuters juga mencatat Iran berulang kali membantah klaim Washington bahwa Teheran meminta gencatan senjata, dan menegaskan posisinya tetap menolak tekanan sepihak.
Respons Ancaman Trump
Surat Pezeshkian muncul setelah Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran melalui media sosial.
Trump menyatakan Amerika Serikat akan terus menyerang hingga Iran “kembali ke zaman batu” jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya.
Namun, klaim Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata dibantah oleh pejabat Teheran.
Dalam laporan Associated Press, Washington disebut masih mempertimbangkan opsi militer sambil membuka jalur diplomasi, di tengah tekanan global yang meningkat.
Soroti Pengaruh Israel
Pezeshkian juga menyoroti peran Benjamin Netanyahu dalam mendorong kebijakan konfrontatif terhadap Iran.
Ia mempertanyakan apakah Amerika Serikat bertindak sebagai “proksi” Israel dalam konflik yang dimulai pada akhir Februari lalu.
“Apakah Amerika memasuki agresi ini karena dimanipulasi oleh Israel?” tulisnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan bahwa konflik dengan Iran digunakan untuk mengalihkan perhatian dari isu Palestina.
Perang Narasi Menguat
Surat tersebut memperlihatkan meningkatnya “perang narasi” antara Teheran dan Washington di tengah konflik militer yang belum mereda.
Pezeshkian menegaskan Iran tidak memiliki permusuhan dengan rakyat Amerika, tetapi akan mempertahankan diri dari serangan.
Hingga kini, belum ada tanda deeskalasi. Jalur diplomasi masih terbuka, namun saling tuding antar kedua pihak justru semakin tajam.***





