Anwar kemudian menyinggung rentetan kasus korupsi raksasa pasca-reformasi. Ia menyoroti skandal BLBI, e-KTP, Jiwasraya, proyek BTS 4G, hingga tata niaga timah yang merugikan negara ratusan triliun rupiah.
Masalah ini, menurutnya, semakin rumit ketika oknum aparat penegak hukum justru ikut terseret pusaran rasuah.
Analogi Sapu Kotor dan Bantuan Asing
Untuk memperkuat agenda ini, Anwar mengusulkan pemerintah berani menggandeng negara yang terbukti bersih dari korupsi guna membangun sistem pengawasan independen. Ia mencontohkan era Soeharto yang pernah memakai jasa perusahaan Swiss untuk memperbaiki tata kelola kepabeanan.
Sebagai penutup, Anwar menganalogikan pemberantasan korupsi layaknya menyapu lantai rumah. Ia menegaskan reformasi birokrasi adalah syarat mutlak agar tujuan tersebut tercapai.
”Sudah nyaris tidak mungkin kita bisa membersihkan lantai rumah bangsa ini jika sapu yang dipergunakan juga sapu yang kotor,” pungkasnya.***





