“Kondisi ini akan membuat Prabowo memiliki tingkat ketergantungan atau political dependency yang tinggi terhadap partai-partai penyokongnya untuk memastikan stabilitas politik dan pemerintahan dari berbagai ancaman turbulensi politik yang tidak produktif,” kata Ahmad, dikutip Ahad (25/2/2024).
Ahmad juga menilai Prabowo akan banyak berharap kepada Partai Demokrat untuk membantu pemerintahannya kelak—jika dia akhirnya benar-benar ditetapkan sebagai pemenang Pilpres—dengan arahan dari SBY langsung. Sebagai kompensasi, kata Ahmad, Prabowo dinilai akan memberikan posisi strategis dan terhormat kepada kader Partai Demokrat dalam pemerintahannya.
“Betul-betul (Partai Demokrat) all out me-mback up pemerintahannya, bukan menjadi musuh dalam selimut yang menikam dari belakang sebagaimana partai-partai politik anggota koalisi lainnya,” kata dia.
”Mengkhawatirkan” Jokowi
Sementara itu, sebelum pertemuan intensif antara Prabowo dan SBY tersebut, Anggota Komisi II DPR RI dari PDIP Komarudin Watubun pernah menyatakan kekhawatirannya pada nasib Presiden Jokowi usai Pemilu 2024 ini.
Dia pernah menyatakan khawatir Jokowi akan kecewa dengan banyak pihak yang saat ini selalu berada di sekitar dan memuji-mujinya, setelah pemerintahan berganti nanti.
“Pak Jokowi orang yang saya pernah berjuang sama-sama. Jelek-jelek begini pernah jual mobil untuk perjuangkan dia untuk jadi Gubernur DKI Jakarta. Di tangan saya ini ikut tanda tangan rekomendasi dia jadi Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu Pak Taufik (Kiemas) tidak mau. Ini saya masih harap sekali dia jangan terlalu percaya orang-orang ini. Saya khawatir, dia besok kecewa,” papar Komarudin, dikutip dari kompas.com (9/2/2024).
Komarudin ketika itu juga mengingatkan bahwa setelah tak lagi menjabat, seseorang kerap ditinggalkan oleh pihak-pihak yang selama ini selalu memuji atau mencari muka padanya.
“Jadi kau itu dielu-elukan, disenangi orang, itu karena kau punya jabatan, punya kekuasaan. Tapi habis itu biasa, semua akan pergi,” imbuh dia.
Terkait bergabungnya AHY dalam Kabinet Indonesia Maju, Komarudin menilai itu adalah langkah awal Jokowi dalam mengonsolidasikan kekuatannya. Pasalnya, kata dia, Jokowi harus mencari kawan baru setelah menjaga jarak dengan PDIP.
Namun, hadirnya Partai Demokrat di dalam koalisi pemerintahan, menurut Komarudin, bukan tidak mungkin malah menjadi musuh baru Jokowi. Ia menilai tak ada teman dan lawan abadi di dalam politik. Bisa jadipihak-pihak terdekat, atau yang berada di dalam lingkar kekuasaan justru menjadi musuh Jokowi.
“Karena baru berapa waktu lalu, selama 9 tahun kan Demokrat ‘berpuasa’ di luar pemerintahan Pak Jokowi. Tetapi, sekarang dalam waktu beberapa bulan ini, mereka bergabung. Kan, Demokrat pasti juga punya hitung-hitungan politis. Pak Jokowi juga punya hitungan politis,” ujar Komarudin, seperti dilansir Kompas pada Ahad (25/2/2024).
Menurutnya, ibarat bermain catur, siapa yang lebih lincah memainkan strategi yang akan memenangkannya.
“Jadi bisa jadi teman baru, bisa menjadi lawan baru,” tambahnya.
Selain itu, kata Komarudin, SBY ialah bukan sosok sembarangan di dunia politik. Ia merupakan ahli strategi.
“Di sana (Demokrat) pak SBY juga ahli strategi. Jadi, saya ingatkan Jokowi bahwa di dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan. Saya kira pak Prabowo juga pasti punya hitung-hitungan. Kan dia tidak mungkin pemerintahannya di bawah bayang-bayang Pak Jokowi,” kata Komarudin.
——





