Ini merupakan serangan pertama yang menyasar Barakah sejak konflik meletus pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
IAEA: Aktivitas Militer di Dekat Reaktor Tidak Bisa Diterima
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi insiden ini dan menyatakan tingkat radiasi di sekitar Barakah tetap dalam batas normal. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menegaskan aktivitas militer yang mengancam keselamatan fasilitas nuklir adalah hal yang tidak dapat diterima.
Grossi juga menyerukan “pengendalian diri militer maksimum” dari semua pihak di sekitar fasilitas nuklir mana pun.
Qatar dan Arab Saudi mengecam serangan ini, menyebutnya ancaman bagi keamanan dan stabilitas kawasan. Arab Saudi sebelumnya melaporkan berhasil mencegat tiga pesawat nirawak yang masuk melalui wilayah udara Irak pada hari yang sama.
Di Washington, Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar “bergerak cepat” menuju kesepakatan. Trump dijadwalkan bertemu para penasihat keamanan nasional senior pada Selasa untuk membahas opsi militer terkait Iran, menurut laporan Axios.
Negosiasi antara Washington dan Teheran terkait gencatan senjata permanen dan pembukaan kembali Selat Hormuz dilaporkan masih jauh dari titik temu.***





