Untuk menutupi kekurangan ini, sebagian besar negara sangat mengandalkan perdagangan internasional. Namun, masalah muncul karena banyak negara tergantung pada satu mitra dagang saja untuk lebih dari setengah kebutuhan impornya. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan pasar global, seperti krisis geopolitik atau bencana alam.
“Perdagangan pangan internasional dan kerja sama global sangat penting untuk mewujudkan pola makan yang sehat dan berkelanjutan,” kata Jonas Stehl, seorang ekonom pembangunan dari University of Göttingen, dikutip Senin, 9 Juni 2025.
Ia juga mengingatkan, “Ketergantungan yang berat pada satu negara pemasok bisa membuat sistem pangan nasional sangat rentan. Membangun rantai pasok pangan yang tangguh adalah kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat.”
Studi ini memberikan gambaran yang sangat jelas: ketahanan pangan bukan hanya soal kemampuan bertani, tetapi juga tentang kerja sama internasional, diversifikasi mitra dagang, dan kebijakan pangan yang bijak.
Meskipun swasembada tampak ini ideal, kenyataannya, interkonektivitas global adalah fondasi utama ketahanan pangan dunia.
Stehl menambahkan bahwa peningkatan minat global terhadap kemandirian pangan nasional mungkin tidak hanya disebabkan oleh alasan-alasan ekonomi atau keberlanjutan. Sebaliknya, ia menyarankan bahwa hal ini juga bisa menjadi cerminan dari perubahan politik yang lebih luas di dunia, seperti meningkatnya sentimen nasionalisme di berbagai negara dan keinginan beberapa pihak untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap negara-negara asing dalam hal pasokan makanan.
“Membangun rantai pasokan pangan yang tangguh sangat penting untuk memastikan kesehatan masyarakat,” katanya.***





