Kronologi Kerusuhan
Eskalasi kekerasan terbaru di Haiti ini bermula pada Kamis, 29 Februari 2024 pekan lalu, ketika perdana menteri melakukan perjalanan ke Nairobi untuk membahas pengiriman pasukan keamanan multinasional pimpinan Kenya ke Haiti.
Ketika itulah pemimpin geng Jimmy Chérizier – yang dijuluki “Barbekyu” – mengumumkan serangan terkoordinasi untuk menyingkirkan sang perdana menteri.
“Kita semua, kelompok bersenjata di kota-kota provinsi dan kelompok bersenjata di ibu kota, bersatu,” kata mantan petugas polisi yang diduga berada di balik beberapa pembantaian di Port-au-Prince, Kamis (29/2).
Persatuan polisi Haiti telah meminta militer untuk membantu memperkuat keamanan penjara utama di ibukota tersebut, namun kompleks tersebut diserbu pada Sabtu (2/3/2024) malam.
Dilansir dari laporan Reuters, pada Ahad (3/3/2024), pintu penjara masih terbuka, dan tidak ada tanda-tanda petugas di sana. Sementara itu, tiga narapidana yang mencoba melarikan diri tergeletak tewas di halaman.
Seorang jurnalis kantor berita AFP yang mengunjungi penjara tersebut melihat ada sekitar 10 mayat. Beberapa di antaranya memiliki tanda-tanda luka akibat peluru.

Reuters melaporkan, seorang pekerja sukarelawan di penjara mengatakan bahwa 99 tahanan—termasuk mantan tentara Kolombia yang dipenjara karena pembunuhan Presiden Moïse—memilih tetap berada di sel mereka, karena takut terbunuh dalam baku tembak.
Kedutaan Besar AS di Port-au-Prince pun mendesak warganya untuk meninggalkan Haiti “sesegera mungkin” pada Ahad lalu.
Sedangkan Kedutaan Besar Prancis mengatakan pihaknya menutup layanan visa sebagai “tindakan pencegahan”.
Haiti sendiri memang telah dikuasai geng selama bertahun-tahun. Dan kekerasan semakin meningkat sejak terjadi peristiwa pembunuhan Presiden Moïse di rumahnya, pada tahun 2021.
Hingga kini, belum ada presiden baru yang menggantikannya dan pemilihan umum belum diadakan sejak tahun 2016.
Berdasarkan kesepakatan politik, Perdana Menteri Henry dijadwalkan mundur dari jabatannya pada 7 Februari lalu. Namun, pemilu yang direncanakan tidak diadakan, dan Henry tetap menjabat.
Pada Senin (4/3/2024), pihak berwenang Kenya mengatakan bahwa perdana menteri telah kembali ke Haiti.
Melanggar Kesepakatan Politik
Claude Joseph – yang menjabat sebagai penjabat perdana menteri ketika Presiden Moïse dibunuh dan sekarang menjadi ketua partai oposisi – mengatakan Haiti sedang mengalami “mimpi buruk”, ketika berbicara kepada program BBC Newsday.
Menurut Joseph, PM Henry ingin “tetap memegang kekuasaan selama mungkin”.

“Dia setuju untuk mundur pada tanggal 7 Februari. Kini dia memutuskan untuk tetap menjabat, terlepas dari kenyataan bahwa ada protes besar-besaran di seluruh negeri yang meminta dia untuk mundur – namun sangat disayangkan bahwa sekarang para penjahat tersebut menggunakan cara-cara kekerasan untuk memaksanya mundur,” kata Joseph.
Pada Januari silam, PBB melaporkan bahwa lebih dari 8.400 orang menjadi korban kekerasan geng di Haiti tahun lalu, termasuk pembunuhan, cedera, dan penculikan. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dari yang tercatat pada tahun 2022.
Banyak fasilitas kesehatan yang berhenti beroperasi karena pertumpahan darah di Haiti.
Kemarahan terhadap tingkat kekerasan yang mengejutkan, selain kekosongan politik, telah menyebabkan beberapa demonstrasi menentang pemerintah, di mana para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri perdana menteri.◼︎




