Pendidikan di Persimpangan AI dan Etika

Mendikdasmen Abdul Mu'ti. - Humas Kemendikdasmen
Di tengah laju kecerdasan artifisial yang kian membentuk cara manusia belajar dan bekerja, pemerintah menegaskan satu hal: teknologi hanya akan bermakna jika berjalan seiring dengan etika.

Pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan agar adaptif terhadap perkembangan kecerdasan artifisial (AI) sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pesan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menekankan bahwa penguasaan teknologi tanpa keadaban digital justru berpotensi melahirkan persoalan sosial baru.

Kecerdasan artifisial kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Kita memang perlu memiliki kompetensi digital, tetapi itu harus diiringi dengan keadaban digital,” ujar Mu’ti, dikutip Senin (26/1/2026).

AI dan Perubahan Cara Manusia Belajar

Perkembangan AI, menurut Mu’ti, telah merambah hampir seluruh sektor kehidupan—mulai dari pendidikan, riset, dunia kerja, hingga cara manusia memperoleh dan mengolah pengetahuan. Berbagai kajian global menunjukkan bahwa meskipun AI berpotensi menggantikan sejumlah jenis pekerjaan, teknologi ini sekaligus membuka peluang baru yang menuntut keterampilan berbeda.

Bacaan Lainnya

“Yang paling terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Sebaliknya, mereka yang memahami dan memanfaatkan AI akan menjadi semakin berdaya,” kata Mu’ti. Dalam konteks ini, pendidikan diposisikan sebagai benteng utama agar generasi muda tidak tertinggal oleh perubahan yang bergerak lebih cepat dari kurikulum lama.

Persoalan Data, Kebenaran, dan Tanggung Jawab Manusia

Mu’ti mengingatkan bahwa kecerdasan artifisial pada dasarnya bekerja dengan menghimpun dan merangkum data yang diunggah manusia. Karena itu, persoalan kebenaran dan validitas informasi menjadi tantangan mendasar.

“AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak memiliki hati dan kesadaran moral,” ujarnya. Jika data yang masuk tidak akurat atau tidak etis, maka keluaran AI pun berpotensi menyesatkan. Di titik inilah, tanggung jawab manusia menjadi penentu utama arah pemanfaatan teknologi.

Manipulasi Digital di Era Scroll Society

Ia juga menyoroti maraknya manipulasi digital—mulai dari pemalsuan gambar dan suara hingga rekayasa narasi yang dapat merusak reputasi seseorang. Fenomena ini kian berbahaya di era scroll society, ketika masyarakat cenderung membaca cepat, dangkal, dan minim verifikasi.

Pos terkait