Pencak Silat Menatap Olimpiade 2036: Mungkinkah Terwujud?

Prabowo Subianto bersama atlet dan ofisial pencak silat berbagai negara pada Indonesia Night & Exhibition Pencak Silat di Hotel Pullman Paris, Prancis. NOC Indonesia/Indonesia.go.id

Di level internasional, pencak silat sudah memiliki tempat dengan terbentuknya Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) atau International Pencak Silat Federation (IPSF) pada 11 Maret 1980 dengan markas besar di Jakarta. Hingga kini, Persilat telah memiliki 86 negara anggota dari tiga federasi regional (Asia, Eropa, dan Amerika) dengan lebih dari 4 juta orang di seluruh dunia yang rutin berlatih pencak silat.

Meski telah dipertandingkan di ajang olahraga multicabang seperti SEA Games sejak 1987 dan Asian Games 2018 di Jakarta, di mana 16 negara turut serta, pencak silat masih menghadapi tantangan besar untuk diakui sebagai cabang olahraga Olimpiade. Kendati demikian, pencak silat sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 13 Desember 2019, sebuah pengakuan yang tentunya memberi harapan besar untuk masuk ke dalam daftar cabor Olimpiade.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, tidak memungkiri bahwa jalan menuju pengakuan pencak silat sebagai cabor Olimpiade tidaklah mudah. “Masih banyak syarat yang harus dipenuhi, salah satunya mengikuti kode WADA (World Anti-Doping Agency),” ujar Oktohari seperti dikutip oleh Antara.

Bacaan Lainnya

Saat ini, Indonesia sedang mengincar untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Remaja 2030 dan Olimpiade 2036. Dalam upaya ini, Oktohari mendampingi Presiden Terpilih Prabowo Subianto, yang juga Presiden Persilat, untuk bertemu dengan Presiden IOC Thomas Bach di Paris guna mendorong pencak silat masuk sebagai salah satu cabor yang dipertandingkan pada Olimpiade 2036.

Prabowo  telah lama menunjukkan komitmennya untuk membawa pencak silat ke panggung Olimpiade. Dalam berbagai kesempatan, ia mengungkapkan tekadnya dan meminta dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan mimpi ini. “Sedikit demi sedikit, pencak silat mulai dilirik, digandrungi, dan dipelajari oleh bangsa lain,” katanya usai terpilih kembali sebagai Ketua Umum IPSI pada 18 Desember 2021.

Jika dilihat dari sejarah, upaya membawa pencak silat ke Olimpiade mungkin bisa dimulai sebagai cabor ekshibisi, mirip dengan yang dilakukan oleh taekwondo pada Olimpiade 1988 di Seoul dan 1992 di Barcelona. Perjalanan taekwondo hingga akhirnya diakui sebagai cabor resmi Olimpiade pada 2000 di Sydney adalah contoh nyata bahwa dengan kerja keras dan komitmen, segalanya menjadi mungkin.

Pos terkait