Pelaku Mutilasi Perempuan di Ngawi Terdeteksi Mengidap Psikopat Narsistik, Apa Itu?

Tersangka Rohmad Tri Hartanto di Polda Jatim. (SF/Agus)
Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatim saat ini tengah mendalami kondisi kejiwaan Rohmad Tri Hartanto alias Antok (32), tersangka pembunuhan dan mutilasi mayat dalam koper di Ngawi.

“Menurut hasil tes psikologi forensik, pelaku ini termasuk dalam golongan psikopat narsistik,” kata Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol M. Farman, Selasa, 4 Februari 2025.

Peristiwa pembunuhan dan mutilasi ini terjadi di sebuah hotel di Kota Kediri, Ahad, 19 Januari 2025 malam. Saat itu tersangka Rohmad Tri Hartanto alias Antok mengajak korban, UK (29), warga Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar untuk bertemu.

Keduanya terlibat cekcok di dalam kamar hotel itu. Di tengah pertengkaran tersebut, Antok mencekik leher UK hingga tewas, lalu memutilasi tubuh korban menjadi beberapa bagian menggunakan pisau buah yang dibeli di minimarket.

Bacaan Lainnya

Potongan tubuh korban itu kemudian dimasukkannya ke kantong plastik serta koper berwarna merah dan dibuang ke tiga tempat berbeda, yakni Ngawi, Ponorogo, dan Trenggalek.

Koper merah berisi jenazah korban kemudian ditemukan warga pada Kamis, 23 Januari 2025. Tiga hari setelahnya, Antok ditangkap penyidik Ditreskrimum Polda Jatim di sebuah jalan di Madiun, pada Ahad, 26 Januari 2025 dini hari.

Soal kondisi kejiawaan Antok, Farman menjelaskan, bukti lain yang memperkuat indikasi adanya psikopat narsistik dalam diri Antok juga terlihat dari gestur tubuh Antok selama menjalani proses interogasi penyidik.

Tersangka cenderung menunjukkan perilaku yang sangat tenang dan tanpa keraguan saat melakukan tindakan keji tersebut.

“Pada saat melakukan kejahatan, dia bersikap antisosial dan tidak memiliki perasaan terhadap korban yang sudah tidak bernyawa, hingga emosinya meledak-ledak,” kata Farman.

Selain itu, hasil penyidikan petugas menyebutkan bahwa pelaku hanya membutuhkan waktu lima jam untuk melakukan kejahatan tersebut, mulai dari memasukkan tubuh korban ke dalam koper hingga memutilasi tubuh korban menjadi tiga bagian.

“Secara ilmiah, nanti kami akan menghadirkan psikolog yang bisa menjelaskan hal ini,” ujar Farman.

Pernyataan ini juga diperkuat dengan hasil uji laboratorium kedokteran forensik Polda Jatim. Berdasarkan kondisi tubuh korban saat ditemukan, dan barang bukti berupa pisau kecil yang diamankan dari pelaku, Farman menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan pisau tersebut digunakan untuk memutilasi tubuh korban.

“Yang jelas, ada kemungkinan bahwa barang bukti pisau yang kita sita itu digunakan untuk memutilasi tubuh korban, karena sayatan itu tipis. Artinya, tindakan tersebut dilakukan berulang kali,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini kepolisian juga masih mendalami keterlibatan rekan pelaku berinisial M. Dari rekaman CCTV hotel, M terlihat berada di tempat kejadian perkara (TKP) saat peristiwa itu berlangsung.

“Peran M sementara diminta untuk mengantarkan pelaku. Apakah dia tahu bahwa isi koper tersebut adalah mayat, kita bisa lihat saat pelaku mengangkat koper, yang dilakukan oleh tersangka sendiri dan bukan dibantu oleh M,” tandasnya.

Atas perbuatannya Antok pun disangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider Pasal 338 KUHP subsider Pasal 351 KUHP ayat 3 dan Pasal 365 ayat 3 KUHP. Pelaku tercanam hukuman maksimal hukuman mati atau seumur hidup.***

Pos terkait