Eks Ketua PWNU Riau mengkritik Ketum PBNU Yahya Staquf—buntut diundangnya akademikus pro-Zionis di forum resmi PBNU. Manajemen kepemimpinan PBNU dinilai abai, defensif, dan kehilangan arah.
__________
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf meminta maaf karena mengundang Peter Berkowitz, akademisi Stanford sekaligus aktivis pro-Zionis, dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) di Jakarta, 15 Agustus 2025 lalu. Ia mengaku “kecolongan” dan tidak tahu rekam jejak Berkowitz sebagai pembela Zionisme.
Namun, pernyataan itu menuai kritik. Mantan Ketua PWNU Riau, HT Rusli Ahmad, menilai PBNU kini semakin kehilangan kepekaan politik dan moral.
“Undangan terhadap tokoh pro-Zionis ke forum resmi NU adalah bukti nyata betapa cerobohnya manajemen kepemimpinan saat ini: abai terhadap rekam jejak, minim pertimbangan strategis, dan gagal membaca sensitivitas umat,” kata Rusli kepada Samudrafakta, Rabu, 27 Agustus 2025.
Alih-alih tampil membela keadilan, lanjut Rusli, PBNU justru terlihat permisif dan defensif. “Ini bukan sekadar salah teknis, melainkan tanda krisis kepemimpinan—PBNU berubah dari motor perlawanan moral menjadi institusi yang gagap, reaktif, dan kehilangan arah perjuangan,” ujarnya.
Beda Gus Dur dengan Yahya
Rusli juga menyinggung perbedaan strategi antara kepemimpinan Yahya dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Gus Dur memang membuka kanal komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Yahudi dan Israel. Tetapi, Gus Dur tidak pernah menjadi corong kepentingan Zionisme. Yang beliau lakukan adalah diplomasi kultural untuk memperjuangkan keadilan Palestina lewat jalur internasional, sambil menunjukkan wajah Islam Nusantara yang toleran,” jelasnya.
Menurut Rusli, Gus Dur berdialog dengan pihak yang berbeda sebagai strategi moral-politik. “Sedangkan kasus PBNU hari ini berbeda: undangan kepada tokoh pro-Zionis dilakukan tanpa kesadaran penuh atas rekam jejak politiknya. Itu bukan strategi diplomasi, melainkan kecerobohan manajemen,” tegas Ketua Umum DPP Santri Tani NU itu.
Ia menutup kritiknya dengan menyebut Gus Dur berangkat dari posisi subjek yang sadar strategi, sementara PBNU kini tampak sebagai objek yang keliru langkah, defensif, dan apologetik setelah disorot publik.***





